Kamis, 19 Mei 2016

makalah pengantar studi islam



TUGAS MAKALAH
STUDI AGAMA DAN MANUSIA

MATA KULIAH : PENGANTAR STUDI ISLAM
DOSEN : MILANA ABDILLAH
SUBARKAH, M.A


                                                                                       
DI SUSUN OLEH :
NURUL SISKA                       (1586208037)
KUSMIATI                   (1586208036)
SITI MASLAHATI       (1586208013)
SITI HUMAIROH        (1586208016)
SUBANDI                     (1586208017)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
1437/2015 M
                                                                                                                       
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb
            segala puji bagi Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang telah memberi rahmat setra hidayahnya kepada kita sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Studi Agama dan Manusia. Tak lupa sholawat serta salam tetap terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Sang pilihan dan sang pemilik ukhwah.
Kami juga mengucapkam banyak terimakasih kepada bapak dosen pembimbing Milana Abdillah Subarkah M.A, serta teman sejurusan yang saling memberikan dalam menyelesaikan makalah ini.
Dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua terlebih – lebih bagi saya yang mengerjakan makalah ini., makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik sangat dibutuhkan demi penyempurnaanya. Akhirnya, cukup itu dari kami kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar – besarnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.




 11-MUHARRAM-1437



            Kelompok I






DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .....................................................................................  2
DAFTAR ISI .....................................................................................................  3
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah .........................................................................  4
B.     Perumusan Masalah................................................................................. 4
C.     Tujuan...................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
A.    Agama : Arti dan Ruang Lingkupnya ....................................................  5
B.     Hubungan Manusia Dan Agama .............................................................  7
C.     Tinjauan Manusia Menurut AL-Qur’an  ...............................................  10
A.    BAB III PENUTUP
B.     Kesimpulan ...................................................................................... ......15
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 16














BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Agama memberikan penjelasan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk berakhlak baik (takwa) ataupun buruk (fujur). Potensi fujur akan senantiasa eksis dalam diri manusia karena terkait dengan aspek instink, naluriah, hawa nafsu, ataupun rasa aman.
Apabila potensi takwa seseorang lemah, karena tidak terkembangkan (melalui pendidikan), maka prilaku manusia dalam hidupnya tidak akan berbeda dengan hewan karena di dominasi oleh potensi fujurnya yang bersifat instinktif atau influsif.
Untuk penulis mencoba untuk mengkaji pengantar studi islam lewat makalh dengan judul “Studi agama dan Manusia”. Yang di dalamnya terdapat asal-usul perkembangan islam dan pengertian tentang studi islam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian ruang lingkup studi islam?
2.      Apa hubungan manusia dan agama?
3.      Apa tinjauan manusia menurut Al-qur’an?

C.    Tujuan Penulis
1.      Mengetahui pengertian ruang lingkup studi islam.
2.      Mengatahui hubungan manusia dan agama.
3.      Mengetahui tinjauan manusia menurut Al-qur’an.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Agama : Arti dan Ruang Lingkupnya
Pengertian agama dapat dilihat dari sudut kebahasan (etimologis) dan sudut istilah (terminologis). Kata agama secara bahasa berasal dari kata sanksrit yang tersusun dari dua kata, yakni a = tidak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun temurun. Hal demikian menunjukan pada salah satu sifat agama, yakni diwarisi secara turun temurun dari generasi ke generasi lainnya. Agama juga berarti tuntunan, yakni sebagai tuntunan bagi kehidupan manusia.
Selain dari kata agama, dikenal juga kata din dari bahasa Arab yang mengandung arti menguasai, menundukan, patuh, utang, balasan, kebiasaan, dan peraturan. Pengertian ini juga sejalan dengan kandungan agama yang di dalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganut agama yang bersangkutan. Selanjutnya agama juga menguasai diri seseorang dan membuat ia tunduk dan patuh kepada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran agama.
Sedangkan kata religi berasal dari bahasa Latin yakni “relegere” dan “religare”. Kata “religare” yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Pengertian demikian itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci sedangkan “religere” mengandung pengertian mengikat, Pengertian mengikat mengandung makna bahwa ajaran –ajaran agama mempunyai sifat mengikat bagi manusia. Dalam agama selanjutnya terdapat pula ikatan antara ruh manusia dengan Tuhan, dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan Tuhan.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Satu kekuatan ghaib yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera.
Ada lima aspek yang terkandung dalam agama. Pertama, aspek asal usulnya, yaitu ada yang berasal dari Tuhan seperti agama samawi, dan ada yang berasal dari pemikiran manusia seperti agama ardi atau agama kebudayaan. Kedua, aspek tujuannya, yaitu untuk memberikan tuntunan hidup agar bahagia di dunia dan akhirat. Ketiga, aspek ruang lingkupnya, yaitu keyakinan akan kekutan ghaib, keyakinan manusia bahwa kesejahterannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan ghaib, respon yang bersifat emosional, dan ada yang di anggap suci. Keempat, aspek pemasyarakatannya, yaitu disampaikan secara turun- temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi yang lain. Kelima, aspek sumbernya, yaitu kitab suci.
Ditinjau dari sumbernya, agama-agama yang dikenal manusi terdiri atas dua jenis agama, yakni :
1.      Agama wahyu (revealed religions)
Agama wahyu bisa disebut juga sebagai agama diwahyukan atau agama langit, yaitu agama yang diwahyukan dari tuhan kepada manusia melalui rasul-Nya, seperti agama islam.
2.      Agama budaya (natural religions)
Agama budaya yaitu agama yang timbul diantara manusia sendiri dan lingkungan dimana merka hidup atau agama yang bersumber dari ajaran seseorang manusia yang dipandang mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang kehidupan, seperti agama Budhayang merupakan ajaran Budha Gautama, Hindu, Kong Hu Cu, Shinto, dan sebagainya.
Dari klasifikasi agama diatas, terdapat ciri-ciri yang membedakan antara agama wahyu dan agama budaya diantaranya:
1.      Agama wahyu dapat dipastikan kelahirannya. Pada waktu agama wahyu disampaikan malaikat (jibril) kepada manusia pilihan yang disebut utusan atau Rasul-Nya, pada waktu itulah agama wahyu lahir. Sedangkan agama budaya tidak dapat dipastikan kelahirannya karena mengalami proses pertumbuhan kebudayaan masyrakat atau perkembangan pemikiran manusia yang memberikan ajaran agama budaya.
2.      Agama wahyu disampaikan kepada manusia melalui utusan atau rasul. Sedangkan agama budaya tidak mengenal utusan atau rasul.  Yang mengajarkan agama budaya adalah filsuf atau pemimpin kerohaian atau pendiri agama itu sendiri.
3.      Agama wahyu mempunyai kitab suci yang berisi himpunan wahyu tuhan. Sedangkan agama budaya yang tidak memiliki kitab suci.
Agama islam adalah agama wahyu yang di wahyukan oleh Allah SWT kepada utusannya yaitu Nabi Muhammad SAW, untuk di sampaikan kepada seluruh umat di dunia. Agama islam adalah agama yang bersifat universal dan menjadi rahmatan lil’alamin atau rahmat bagi seluruh alam. Dan yang menjadi kitab suci umat islam adalah Al-Qura’an yang merupakan firman Allah SWT yang salah satu fungsinya adalah sebagai petunjuk hidup manusia agar selalu mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat.

B.     Hubungan Manusia dan Agama
Hubungan manusia dan agama ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat di pisahkan. Agama mengambil bagian pada saat-saat yang paling penting dan pada pengalaman hidup manusia. Agama merayakan kelahiran, menandai pergantian jenjang masa dewasa, mengesahkan perkawinan, serta kehidupan keluarga, dan melampangkan jalan dari kehidupan kini menuju kehidupan yang akan datang.
            Meningat hal demikian wajarlah jika agama menjadi sangat dibutuhkan oleh manusia, karena ia mampu memberikan jawaban sekaligus inspirasi bagi terwujudnya kehidupan yang di inginkan manusia.
            Manusia dan memiliki hubungan yang sangat erat. Agama merupakan fenomena yang tidak mungkin terpisahkan dari  manusia. Sebab, manusia memiliki fitrah yang selalu mengajak ia untuk bertiman kepada Tuhan Yang Maha Agung. Selain itu, manusia juga selalu butuh untuk mengetahui apa-apa yang ada disekitarnya, termasuk dirinya sendiri. Karenanya, sangatlah logis jika agama selalu mewarnai sejarah manusia dari dahulu kalahingga kini, bahkan sampai akhir nanti.
            Ada tiga alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama, yaitu:
1.      Latar belakang fitrah manusia
Dari dalam diri manusia terdapat ptensi fitrah beragama.
Bukti bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi agama dapat dilihat melalui bukti historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan antropologis kita mengetahui bahwa pada manusia primitif yang kepadanya tidak pernah datang informasi mengenai tuhan, sungguhpun tuhan mereka itu terbatas pada daya khayalnya. Misalnya mempertuhankan benda-benda alam yang dianggap misterius dan keramat yang diyakini memiliki kekuatan. Kepercayaan tersebut dinamakan Dinamisme. Selanjutnya mereka meyakini adanya ruh atau jiwa dalam benda-benda tersebut yang memiliki karakter dan kecenderungan baik dan buruk yang dengan kepercayaan Animisme. Ruh atauh jiwa terebut mereka personifikasikan dalam bentuk dewa yang jumlahnya banyak dan selanjutnya disebut politeisme. Kenyataan ini menunjukan bahwa manusia memiliki potensi berTuhan. Namun karena potensi tersebut tidak diarahkan, maka mengambil bentuk macam-macam yang keadaannya serba relatif. Dalam keadaan demikian itulah maka para Nabi diutus kepada mereka untuk merubah keyakinan mereka.
2.      Kelemahan dan Kekurangan Manusia
Faktor lainnya yang melatar belakangi manusia memerlukan agama adalah karena disamping manusia memiliki berbagai ksesempurnaan juga memiliki berbagai kekurangan. Hal ini antara laindiungkapkan oleh kata Al-Nafs. Menurut Quraish Shihab, bahwa dalam panmdangan Al-Qur’an, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan, dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh Al-Qur’an dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar.
        Menurut Quraish Shihab bahwa kata mengilhamkan berarti potensi agar manusia melalui nafs menangkap makna baik dan buruk,  serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Disini antara lain terlihat perbedaan pengertian kata ini menurut Al-Qur’an dan terminologi kaum sufi, yang oleh Al-Qusyairi dalam risalahnya di nyatakan bahwa nafs dalam pengertian sufi adalah sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan prilaku buruk. Pengertian kaum sufi tentang nafs ini sama dengan terdapat dalam Kamus Beasr Bahasa Indonesia yang antara lain menjelaskan bahwa nafs adalah dorongan hati yang kuat untuk berbuat yang kurang baik.
3.      Tantangan Manusia
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar.tantangan dari dalam berupa tantangan hawa nafsu dan bisikan setan. Sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dari tuhan. Orang-orang kafir itu sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk merakla guanakan agar orang mengikuti keinginannya. Berbagai bentuk budaya, hiburan, obat-obat terlarang dan lain sebagainya dibuat dengan sengaja. Utntuk itu, upaya membatasi dan membentengi manusia adalah dengan mengajar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin meningkat, sehingga upaya mengagamakan masyarakat menjadi penting.


C.     Tinjauan Manusia Menurut Al-Qur’an
Di dalam Al-Qur’an ada empat kata yang bisa diartikan sebagai manusia, yaitu Al-Basyar, An-Nas, Al-Ins atau Al-Insan, dan Bani Adam.
Al-Basyar adalah gambaran manusia secara materi, yang dapat dilihat, memakan sesuatau, berjalan, dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya.
Manusia dalam Al-Qur’an juga disebut An-Nas, yakni yang menunjukan makhluk sosial yang saling membutuhkan, yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.
Manusia dalam aL-Qur’an sering juga disebut Al-Insan. Dalam Al-Qur’an, kata Al-Insan mengandung pengertian makhluk mukallaf (ciptaan Allah yang dibebani tanggung jawab) pengembangan Allah SWT dan khalifah Allah SWT dibumi. Atau dalam pengertian lain, Al-Insandapat di definisikan makhluk Allah yang memiliki potensi untuk beriman kepada Allah, dengan mempergunakan akalnya mampu memehami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam serta akhlak. Sedangkan manusia dalam pengertian Bani Adam yakni keturunan anak cucu Adam yang Allah SWT ciptkan dengan sempurna dan memiliki kelebihan-kelebihan dari makhluk-makhlukn yang lain.
Dari pengertian manusia yang sudah dijelaskan diatas, maka terdapat perbedaan jelas antara manusia dengan ciptaann Allah SWT yang lain. Hal tersebut dapat diidentifikasi dari beberapa ciri-ciri yang membedakan antara manusia dengan makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya, Diantaranya:
1.         Manusia merupakan makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang paling baik dan ciptaan Allah SWT yang paling sempurna. Hal tersebut dijelaskan dalam surat At-Tin ayat 4 yang berbunyi لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ  yang artinya “sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Akan tetapi dibalik kesempurnaannya, manusia juga memiliki kelemahan-kelemahan, seperti melampaui batas, di jelaskan dalam ayat yang berbunyi:  وَاِذَامَسَّ الْاِنْسَانَ الضُّرُّدَعَا
نَا لِجَنْبِهِ اَوْ قَاعِدًااَوْقَائِمًا فَلَمَّاكَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَاَنْ لَّمْ يَدْعُنَااِلَي ضُرٍّمَّسَّهُ كَذَالِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِيْنَ مَا كَانُوْايَعْمَلُوْنَ   yang artinya: “ Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, dudk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Yunus : 12), Ada pula di jelaskan tentang Zalim yang berbunyi: وَاَتَكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُ وَاِنْ تَعَدُّوْانِعْمَتَ اللهِ لاَتُحْصُوْهَا اِنَّ  الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ.   Yang Artinya: “Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. Ibrahim : 34), Dan menjelaskan tentang ingkar dan tidak berterimakasih yang berbunyi:اِنَّ الْاِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُوْدٌ.   (QS. Al-Adiyat : 6), yang Artinya: “ Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterimakasih kepada tuhannya”.
2.         Manusia merupakan makhluk yang diberikan Allah SWT akal pikiran. Dengan akal pikiran yang diberikan Allah SWT kepada manusia, maka manusia mampu mnegamati alam semesta, menghasilkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.         Manusia adalah makhluk yang berakhlak. Artinya manusia adalah makhluk yang di beri Allah SWT kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk yang perwujudannya dalam sikap atau perilaku sehari-hari.
Dari ciri-ciri yang telah disebutkan diatas, nampak jelas bahwa manusia berbeda dengan ciptaan Allah SWT yang lain, seperti hewan yang tidak mempunyai akal pikiran. Akan tetapi jika manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Allah SWT yang sangat tinggi nilainya yakni pemikiran (Rasio), kalbu, jiwa, raga, serta panca indra secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi hewan seperti yang dinyatakan Allah SWT.
Fase-fase sebagaimana tersebut diatas, tersebut juga didalam hadist :
Dari Ibnu Mas’ud RA, iya berkata : Telah bersabda kepada kami Rasullalah SAW – Beliau adalah orang yang jujr dan terpercaya; “Sesungguhnya seorang diantara kami (setiap kamu) bener-bener diproses setiap kejadiannya didalam perut ibunya selama 40 hari behujud nuthfah; kemudian berproses lagi selama 40 hari menjadi alaqah (segumpal darah); lantas berproses lagi selama 40 hari menjadi mudhgah (segumpal daging); kemudian malaikat dikirim kepadanya untuk meniupkan roh kedalamnya; lantas (sang janin) itu di tetapkan dalam empat ketentuan: di tentukan (kadar) rizkinya, ditentukan batas umurnya, di tentukan amal perbuatannya, di tentukan apakah ia tergolong orang celaka ataukah orang yang beruntung.
Dari uraian singkat mengenai asal usul manusia itu dapatlah diketahui bahwa manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur materi dan unsur immateri. Unsur materi adalah tubuh atau jasad, dan unsur immaterinya adalah ruh yang tidak dapat di realitaskan. Dan untuk masalah ruh Al-Qur’an tidak menjelaskan tentang sifat ruh, karena masalah ruh adalah urusan Allah SWT.
Manusia sebagai makhluk yang mulia, menempati posisi yang yang istimewa yang diberikan Allah di muka bumi ini. Keistimewaan manusia ini terlihat dari kedudukan serta fungsi yang di berikan Allah kepadanya.
1.         Manusia Sebagai ‘Abd Allah
Kata ‘Abd Allah mengandung arti abdi atau hamba Allah. Setiap manusia yang diciptakan wajib mengabdi kepada Allah SWT yang di iringi dengan ketaatan, kepatuhan serta tunduk kepada Allah SWT.
Realisasi atau wujud pengabdian manusia kepada Allah SWT dapat berupa ibadah kepada Allah SWT baik ibadah khusus dan ibadah umum. Ibadah khusus adalah ibadah yang segala tata cara pelaksanaan diatur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Sedangkan ibadah umum adalah segala amalanatau perbuatan yang di izinkan Allah SWT, yang kemudian perbuatan tersebut dapat mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi diri senidri, oranglain, dan masyarakat dengan niat mencari ke ridhaan Allah SWT, seperti saling tolong menolong, berkata jujur, saling menghormati dan sebagainya.
2.         Manusia Sebagai khalifah Allah
Allah SWT telah menyatakan manusia sebagai khalifah. Pengertian khalifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah di tentukan. Jika manusia sebagai khalifatullah dibumi, maka ia memiliki tugas-tugas tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama manusia itu berada dibumi sebagai khalifatullah. Dengan dijadikannya manusia sebgaia khlaifah, maka konsekuensinya adalah manusia memiliki tugas-tugas sebagai khalifah. Dalam kepastiannya sebagai khalifah inilah manusia diberikan tanggung jawab untuk mengatur dan memelihara alam semesta. Semua diserahkan kepada manusia untuk digunakan selus-luasnya demi kesejahteraan manusia.
Jika kita menyadari diri kita sebagai khalifah Allah, sebenarnya tidak ada satu manusia pun diatas dunia ini yang tidak mempunyai “kedudukan” ataupun “jabatan”. Jika seseorang menyadari bahwa jabatan duniawinya itu merupakan jabatan dari jabatannya sebagai khalifatullah, maka tidak ada satu manusia pun yang akan melakukan penyimpangan-penyimpangan selama dia menjabat.
Jabatan manusia sebagai khalifah adalah amanat Allah. Jabatan-jabatan duniawi, misalkan yang diberikan oleh atasan kita, atau pun yang diberikan oleh sesama manusia, adalah merupakan amanah Allah, karena merupakan penjabaran dari khalifatullah.
Sebagai khalifah Allah, sudah menjadi kewajiban manusia untuk mengemban amanah yang diberikan dijalankan sesuai dengan pola kehendaknya. Akan tetapi jika manusia menyalahgunakan segala Amanah yang diberikan Allah SWT, maka malapetaka akan terjadi, yang salah satunya diakibatkan salah urus manusia



















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Arti ruang lingkup studi islam yaitu dapat di katakan sebagai usaha utnuk mempelajari hal-hal berhubungan dengan agama islam. Pengertian agama dapat dilihat dari sudut kebahasan (etimologis) dan sudut istilah (terminologis). Kata agama secara bahasa berasal dari kata sanksrit yang tersusun dari dua kata, yakni a = tidak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun temurun
Selain dari kata agama, dikenal juga kata din dari bahasa Arab yang mengandung arti menguasai, menundukan, patuh, utang, balasan, kebiasaan, dan peraturan. Pengertian ini juga sejalan dengan kandungan agama yang di dalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganut agama yang bersangkutan. Selanjutnya agama juga menguasai diri seseorang dan membuat ia tunduk dan patuh kepada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran agama.
Hubungan manusia dan agama ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat di pisahkan. Agama mengambil bagian pada saat-saat yang paling penting dan pada pengalaman hidup manusia. Agama merayakan kelahiran, menandai pergantian jenjang masa dewasa, mengesahkan perkawinan, serta kehidupan keluarga, dan melampangkan jalan dari kehidupan kini menuju kehidupan yang akan datang.
Manusia dalam aL-Qur’an sering juga disebut Al-Insan. Dalam Al-Qur’an, kata Al-Insan mengandung pengertian makhluk mukallaf (ciptaan Allah yang dibebani tanggung jawab) pengembangan Allah SWT dan khalifah Allah SWT dibumi. Atau dalam pengertian lain, Al-Insandapat di definisikan makhluk Allah yang memiliki potensi untuk beriman kepada Allah, dengan mempergunakan akalnya mampu memehami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam serta akhlak.

DAFTAR PUSTAKA

Hasan Ali H.M Agama Islam, Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1994/1995
Fathoni Ahmad Miftah Dr.M.Ag, Pengantar Studi Islam, Semarang: Sunan Gunung Jati, 2001
Nata Abudin, Metodelogi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2010
Shihab Quraish, Wawasan Qur’an, Bandung: Mizan,1996.
Mukhtarom Asrosi, M.A, Subarkah Abdillah Milana, M.A, Pengantar Studi Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar