TUGAS MAKALAH
STUDI AGAMA DAN MANUSIA
MATA KULIAH : PENGANTAR
STUDI ISLAM
DOSEN : MILANA ABDILLAH
SUBARKAH, M.A
DI SUSUN OLEH :
NURUL
SISKA (1586208037)
KUSMIATI
(1586208036)
SITI
MASLAHATI (1586208013)
SITI
HUMAIROH (1586208016)
SUBANDI
(1586208017)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH TANGERANG
1437/2015 M
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
segala puji bagi Allah yang maha
pengasih lagi maha penyayang, yang telah memberi rahmat setra hidayahnya kepada
kita sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Studi Agama dan Manusia. Tak lupa
sholawat serta salam tetap terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.
Sang pilihan dan sang pemilik ukhwah.
Kami
juga mengucapkam banyak terimakasih kepada bapak dosen pembimbing Milana Abdillah Subarkah M.A, serta teman sejurusan yang saling
memberikan dalam menyelesaikan makalah ini.
Dan
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua terlebih – lebih
bagi saya yang mengerjakan makalah ini., makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka saran dan kritik sangat dibutuhkan demi penyempurnaanya.
Akhirnya, cukup itu dari kami kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar –
besarnya.
Wassalamualaikum Wr.
Wb.
11-MUHARRAM-1437
Kelompok I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................... 2
DAFTAR ISI ..................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah ......................................................................... 4
B.
Perumusan Masalah.................................................................................
4
C.
Tujuan......................................................................................................
4
BAB II PEMBAHASAN
A.
Agama : Arti dan Ruang Lingkupnya .................................................... 5
B.
Hubungan Manusia Dan Agama ............................................................. 7
C.
Tinjauan Manusia Menurut AL-Qur’an ............................................... 10
A. BAB III PENUTUP
B. Kesimpulan ...................................................................................... ......15
DAFTAR
PUSTAKA
......................................................................................
16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Agama memberikan penjelasan bahwa
manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk berakhlak baik (takwa)
ataupun buruk (fujur). Potensi fujur akan senantiasa eksis dalam diri manusia
karena terkait dengan aspek instink, naluriah, hawa nafsu, ataupun rasa aman.
Apabila potensi takwa seseorang lemah,
karena tidak terkembangkan (melalui pendidikan), maka prilaku manusia dalam
hidupnya tidak akan berbeda dengan hewan karena di dominasi oleh potensi
fujurnya yang bersifat instinktif atau influsif.
Untuk penulis mencoba untuk mengkaji
pengantar studi islam lewat makalh dengan judul “Studi agama dan Manusia”. Yang
di dalamnya terdapat asal-usul perkembangan islam dan pengertian tentang studi
islam.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian ruang lingkup studi islam?
2. Apa
hubungan manusia dan agama?
3. Apa
tinjauan manusia menurut Al-qur’an?
C.
Tujuan
Penulis
1. Mengetahui
pengertian ruang lingkup studi islam.
2. Mengatahui
hubungan manusia dan agama.
3. Mengetahui
tinjauan manusia menurut Al-qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Agama
: Arti dan Ruang Lingkupnya
Pengertian agama dapat dilihat dari
sudut kebahasan (etimologis) dan sudut istilah (terminologis). Kata agama
secara bahasa berasal dari kata sanksrit yang tersusun dari dua kata, yakni a = tidak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat,
diwarisi secara turun temurun. Hal demikian menunjukan pada salah satu sifat
agama, yakni diwarisi secara turun temurun dari generasi ke generasi lainnya.
Agama juga berarti tuntunan, yakni sebagai tuntunan bagi kehidupan manusia.
Selain dari kata agama, dikenal juga
kata din dari bahasa Arab yang
mengandung arti menguasai, menundukan, patuh, utang, balasan, kebiasaan, dan
peraturan. Pengertian ini juga sejalan dengan kandungan agama yang di dalamnya
terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganut
agama yang bersangkutan. Selanjutnya agama juga menguasai diri seseorang dan
membuat ia tunduk dan patuh kepada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran
agama.
Sedangkan kata religi berasal dari
bahasa Latin yakni “relegere” dan “religare”. Kata “religare” yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Pengertian
demikian itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara
mengabdi kepada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci sedangkan “religere” mengandung pengertian
mengikat, Pengertian mengikat mengandung makna bahwa ajaran –ajaran agama
mempunyai sifat mengikat bagi manusia. Dalam agama selanjutnya terdapat pula
ikatan antara ruh manusia dengan Tuhan, dan agama lebih lanjut lagi memang
mengikat manusia dengan Tuhan.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat
disimpulkan bahwa agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi
manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia
sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari
manusia. Satu kekuatan ghaib yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera.
Ada lima aspek yang terkandung dalam
agama. Pertama, aspek asal usulnya,
yaitu ada yang berasal dari Tuhan seperti agama samawi, dan ada yang berasal
dari pemikiran manusia seperti agama ardi atau agama kebudayaan. Kedua, aspek tujuannya, yaitu untuk
memberikan tuntunan hidup agar bahagia di dunia dan akhirat. Ketiga, aspek ruang lingkupnya, yaitu
keyakinan akan kekutan ghaib, keyakinan manusia bahwa kesejahterannya di dunia
ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan
kekuatan ghaib, respon yang bersifat emosional, dan ada yang di anggap suci. Keempat, aspek pemasyarakatannya, yaitu
disampaikan secara turun- temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi yang
lain. Kelima, aspek sumbernya, yaitu
kitab suci.
Ditinjau dari sumbernya, agama-agama
yang dikenal manusi terdiri atas dua jenis agama, yakni :
1. Agama
wahyu (revealed religions)
Agama
wahyu bisa disebut juga sebagai agama diwahyukan atau agama langit, yaitu agama
yang diwahyukan dari tuhan kepada manusia melalui rasul-Nya, seperti agama
islam.
2. Agama
budaya (natural religions)
Agama
budaya yaitu agama yang timbul diantara manusia sendiri dan lingkungan dimana
merka hidup atau agama yang bersumber dari ajaran seseorang manusia yang
dipandang mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang kehidupan, seperti agama
Budhayang merupakan ajaran Budha Gautama, Hindu, Kong Hu Cu, Shinto, dan sebagainya.
Dari klasifikasi agama diatas, terdapat
ciri-ciri yang membedakan antara agama wahyu dan agama budaya diantaranya:
1. Agama
wahyu dapat dipastikan kelahirannya. Pada waktu agama wahyu disampaikan
malaikat (jibril) kepada manusia pilihan yang disebut utusan atau Rasul-Nya,
pada waktu itulah agama wahyu lahir. Sedangkan agama budaya tidak dapat
dipastikan kelahirannya karena mengalami proses pertumbuhan kebudayaan
masyrakat atau perkembangan pemikiran manusia yang memberikan ajaran agama
budaya.
2. Agama
wahyu disampaikan kepada manusia melalui utusan atau rasul. Sedangkan agama
budaya tidak mengenal utusan atau rasul.
Yang mengajarkan agama budaya adalah filsuf atau pemimpin kerohaian atau
pendiri agama itu sendiri.
3. Agama
wahyu mempunyai kitab suci yang berisi himpunan wahyu tuhan. Sedangkan agama
budaya yang tidak memiliki kitab suci.
Agama islam adalah agama wahyu yang di
wahyukan oleh Allah SWT kepada utusannya yaitu Nabi Muhammad SAW, untuk di
sampaikan kepada seluruh umat di dunia. Agama islam adalah agama yang bersifat
universal dan menjadi rahmatan lil’alamin
atau rahmat bagi seluruh alam. Dan yang menjadi kitab suci umat islam adalah
Al-Qura’an yang merupakan firman Allah SWT yang salah satu fungsinya adalah
sebagai petunjuk hidup manusia agar selalu mendapatkan keselamatan di dunia dan
di akhirat.
B.
Hubungan
Manusia dan Agama
Hubungan manusia dan agama ibarat dua
sisi mata uang yang tidak dapat di pisahkan. Agama mengambil bagian pada
saat-saat yang paling penting dan pada pengalaman hidup manusia. Agama
merayakan kelahiran, menandai pergantian jenjang masa dewasa, mengesahkan
perkawinan, serta kehidupan keluarga, dan melampangkan jalan dari kehidupan
kini menuju kehidupan yang akan datang.
Meningat hal demikian wajarlah jika
agama menjadi sangat dibutuhkan oleh manusia, karena ia mampu memberikan
jawaban sekaligus inspirasi bagi terwujudnya kehidupan yang di inginkan
manusia.
Manusia dan memiliki hubungan yang
sangat erat. Agama merupakan fenomena yang tidak mungkin terpisahkan dari manusia. Sebab, manusia memiliki fitrah yang
selalu mengajak ia untuk bertiman kepada Tuhan Yang Maha Agung. Selain itu,
manusia juga selalu butuh untuk mengetahui apa-apa yang ada disekitarnya,
termasuk dirinya sendiri. Karenanya, sangatlah logis jika agama selalu mewarnai
sejarah manusia dari dahulu kalahingga kini, bahkan sampai akhir nanti.
Ada tiga alasan yang
melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama, yaitu:
1.
Latar
belakang fitrah manusia
Dari
dalam diri manusia terdapat ptensi fitrah beragama.
Bukti
bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi agama dapat dilihat melalui
bukti historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan antropologis
kita mengetahui bahwa pada manusia primitif yang kepadanya tidak pernah datang
informasi mengenai tuhan, sungguhpun tuhan mereka itu terbatas pada daya
khayalnya. Misalnya mempertuhankan benda-benda alam yang dianggap misterius dan
keramat yang diyakini memiliki kekuatan. Kepercayaan tersebut dinamakan Dinamisme. Selanjutnya mereka meyakini
adanya ruh atau jiwa dalam benda-benda tersebut yang memiliki karakter dan
kecenderungan baik dan buruk yang dengan kepercayaan Animisme. Ruh atauh jiwa terebut mereka personifikasikan dalam
bentuk dewa yang jumlahnya banyak dan selanjutnya disebut politeisme. Kenyataan ini menunjukan bahwa manusia memiliki potensi
berTuhan. Namun karena potensi tersebut tidak diarahkan, maka mengambil bentuk
macam-macam yang keadaannya serba relatif. Dalam keadaan demikian itulah maka
para Nabi diutus kepada mereka untuk merubah keyakinan mereka.
2. Kelemahan dan
Kekurangan Manusia
Faktor lainnya yang melatar
belakangi manusia memerlukan agama adalah karena disamping manusia memiliki
berbagai ksesempurnaan juga memiliki berbagai kekurangan. Hal ini antara
laindiungkapkan oleh kata Al-Nafs. Menurut Quraish Shihab, bahwa dalam
panmdangan Al-Qur’an, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang
berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan, dan
karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh Al-Qur’an dianjurkan untuk
diberi perhatian lebih besar.
Menurut Quraish Shihab bahwa kata
mengilhamkan berarti potensi agar manusia melalui nafs menangkap makna baik dan
buruk, serta dapat mendorongnya untuk
melakukan kebaikan dan keburukan. Disini antara lain terlihat perbedaan
pengertian kata ini menurut Al-Qur’an dan terminologi kaum sufi, yang oleh
Al-Qusyairi dalam risalahnya di nyatakan bahwa nafs dalam pengertian sufi
adalah sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan prilaku buruk. Pengertian kaum
sufi tentang nafs ini sama dengan terdapat dalam Kamus Beasr Bahasa Indonesia
yang antara lain menjelaskan bahwa nafs adalah dorongan hati yang kuat untuk
berbuat yang kurang baik.
3. Tantangan Manusia
Faktor lain yang menyebabkan manusia
memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi
berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar.tantangan dari
dalam berupa tantangan hawa nafsu dan bisikan setan. Sedangkan tantangan dari
luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara
sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dari tuhan. Orang-orang kafir itu
sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk merakla guanakan agar orang
mengikuti keinginannya. Berbagai bentuk budaya, hiburan, obat-obat terlarang
dan lain sebagainya dibuat dengan sengaja. Utntuk itu, upaya membatasi dan membentengi
manusia adalah dengan mengajar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan
tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin meningkat, sehingga upaya
mengagamakan masyarakat menjadi penting.
C. Tinjauan Manusia
Menurut Al-Qur’an
Di dalam Al-Qur’an ada empat kata yang
bisa diartikan sebagai manusia, yaitu Al-Basyar, An-Nas, Al-Ins atau Al-Insan,
dan Bani Adam.
Al-Basyar adalah gambaran manusia secara
materi, yang dapat dilihat, memakan sesuatau, berjalan, dan berusaha untuk
memenuhi kebutuhan kehidupannya.
Manusia dalam Al-Qur’an juga disebut
An-Nas, yakni yang menunjukan makhluk sosial yang saling membutuhkan, yang
bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.
Manusia dalam aL-Qur’an sering juga
disebut Al-Insan. Dalam Al-Qur’an, kata Al-Insan mengandung pengertian makhluk
mukallaf (ciptaan Allah yang dibebani tanggung jawab) pengembangan Allah SWT
dan khalifah Allah SWT dibumi. Atau dalam pengertian lain, Al-Insandapat di
definisikan makhluk Allah yang memiliki potensi untuk beriman kepada Allah, dengan
mempergunakan akalnya mampu memehami dan mengamalkan wahyu serta mengamati
gejala-gejala alam serta akhlak. Sedangkan manusia dalam pengertian Bani Adam
yakni keturunan anak cucu Adam yang Allah SWT ciptkan dengan sempurna dan
memiliki kelebihan-kelebihan dari makhluk-makhlukn yang lain.
Dari pengertian manusia yang sudah
dijelaskan diatas, maka terdapat perbedaan jelas antara manusia dengan ciptaann
Allah SWT yang lain. Hal tersebut dapat diidentifikasi dari beberapa ciri-ciri
yang membedakan antara manusia dengan makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya,
Diantaranya:
1.
Manusia merupakan
makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang paling baik dan ciptaan
Allah SWT yang paling sempurna. Hal tersebut dijelaskan dalam surat At-Tin ayat
4 yang berbunyi لَقَدْ خَلَقْنَا
الْاِنْسَانَ فِيْ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ yang artinya
“sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Akan tetapi dibalik kesempurnaannya, manusia juga memiliki kelemahan-kelemahan,
seperti melampaui batas, di jelaskan dalam ayat yang berbunyi: وَاِذَامَسَّ الْاِنْسَانَ
الضُّرُّدَعَا
نَا لِجَنْبِهِ اَوْ قَاعِدًااَوْقَائِمًا
فَلَمَّاكَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَاَنْ لَّمْ يَدْعُنَااِلَي
ضُرٍّمَّسَّهُ كَذَالِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِيْنَ مَا كَانُوْايَعْمَلُوْنَ yang
artinya: “ Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam
keadaan berbaring, dudk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu
dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia
tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah
menimpanya. Begitulah
orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka
kerjakan”. (QS. Yunus : 12), Ada pula di
jelaskan tentang Zalim
yang berbunyi: وَاَتَكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا
سَاَلْتُمُوْهُ وَاِنْ تَعَدُّوْانِعْمَتَ اللهِ لاَتُحْصُوْهَا اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ. Yang Artinya: “Dan dia telah memberikan
kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika
kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (QS.
Ibrahim : 34), Dan menjelaskan
tentang ingkar dan tidak berterimakasih yang
berbunyi:اِنَّ الْاِنْسَانَ لِرَبِّهِ
لَكَنُوْدٌ. (QS. Al-Adiyat : 6), yang Artinya: “ Sesungguhnya manusia itu sangat
ingkar, tidak berterimakasih kepada tuhannya”.
2.
Manusia merupakan
makhluk yang diberikan Allah SWT akal pikiran. Dengan akal pikiran yang
diberikan Allah SWT kepada manusia, maka manusia mampu mnegamati alam semesta,
menghasilkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.
Manusia adalah makhluk
yang berakhlak. Artinya manusia adalah makhluk yang di beri Allah SWT kemampuan
untuk membedakan yang baik dan yang buruk yang perwujudannya dalam sikap atau
perilaku sehari-hari.
Dari ciri-ciri yang telah
disebutkan diatas, nampak jelas bahwa manusia berbeda dengan ciptaan Allah SWT
yang lain, seperti hewan yang tidak mempunyai akal pikiran. Akan tetapi jika
manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Allah SWT yang
sangat tinggi nilainya yakni pemikiran (Rasio), kalbu, jiwa, raga, serta panca
indra secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi
hewan seperti yang dinyatakan Allah SWT.
Fase-fase sebagaimana tersebut
diatas, tersebut juga didalam hadist :
Dari
Ibnu Mas’ud RA, iya berkata : Telah bersabda kepada kami Rasullalah SAW –
Beliau adalah orang yang jujr dan terpercaya; “Sesungguhnya seorang diantara
kami (setiap kamu) bener-bener diproses setiap kejadiannya didalam perut ibunya
selama 40 hari behujud nuthfah; kemudian berproses lagi selama 40 hari menjadi
alaqah (segumpal darah); lantas berproses lagi selama 40 hari menjadi mudhgah
(segumpal daging); kemudian malaikat dikirim kepadanya untuk meniupkan roh
kedalamnya; lantas (sang janin) itu di tetapkan dalam empat ketentuan: di
tentukan (kadar) rizkinya, ditentukan batas umurnya, di tentukan amal
perbuatannya, di tentukan apakah ia tergolong orang celaka ataukah orang yang
beruntung.
Dari uraian singkat mengenai asal
usul manusia itu dapatlah diketahui bahwa manusia terdiri dari dua unsur, yaitu
unsur materi dan unsur immateri. Unsur materi adalah tubuh atau jasad, dan
unsur immaterinya adalah ruh yang tidak dapat di realitaskan. Dan untuk masalah
ruh Al-Qur’an tidak menjelaskan tentang sifat ruh, karena masalah ruh adalah
urusan Allah SWT.
Manusia sebagai makhluk yang mulia,
menempati posisi yang yang istimewa yang diberikan Allah di muka bumi ini.
Keistimewaan manusia ini terlihat dari kedudukan serta fungsi yang di berikan
Allah kepadanya.
1.
Manusia Sebagai ‘Abd
Allah
Kata ‘Abd Allah mengandung arti abdi
atau hamba Allah. Setiap manusia yang diciptakan wajib mengabdi kepada Allah SWT
yang di iringi dengan ketaatan, kepatuhan serta tunduk kepada Allah SWT.
Realisasi atau wujud pengabdian manusia
kepada Allah SWT dapat berupa ibadah kepada Allah SWT baik ibadah khusus dan
ibadah umum. Ibadah khusus adalah ibadah yang segala tata cara pelaksanaan
diatur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji.
Sedangkan ibadah umum adalah segala amalanatau perbuatan yang di izinkan Allah
SWT, yang kemudian perbuatan tersebut dapat mendatangkan manfaat dan kebaikan
bagi diri senidri, oranglain, dan masyarakat dengan niat mencari ke ridhaan
Allah SWT, seperti saling tolong menolong, berkata jujur, saling menghormati
dan sebagainya.
2.
Manusia Sebagai
khalifah Allah
Allah SWT telah menyatakan manusia
sebagai khalifah. Pengertian khalifah adalah seseorang yang diberi tugas
sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah di tentukan. Jika manusia sebagai
khalifatullah dibumi, maka ia memiliki tugas-tugas tertentu sesuai dengan
tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama manusia itu berada dibumi
sebagai khalifatullah. Dengan dijadikannya manusia sebgaia khlaifah, maka
konsekuensinya adalah manusia memiliki tugas-tugas sebagai khalifah. Dalam
kepastiannya sebagai khalifah inilah manusia diberikan tanggung jawab untuk
mengatur dan memelihara alam semesta. Semua diserahkan kepada manusia untuk
digunakan selus-luasnya demi kesejahteraan manusia.
Jika kita menyadari diri kita sebagai
khalifah Allah, sebenarnya tidak ada satu manusia pun diatas dunia ini yang
tidak mempunyai “kedudukan” ataupun “jabatan”. Jika seseorang menyadari bahwa
jabatan duniawinya itu merupakan jabatan dari jabatannya sebagai khalifatullah,
maka tidak ada satu manusia pun yang akan melakukan penyimpangan-penyimpangan
selama dia menjabat.
Jabatan manusia sebagai khalifah adalah
amanat Allah. Jabatan-jabatan duniawi, misalkan yang diberikan oleh atasan
kita, atau pun yang diberikan oleh sesama manusia, adalah merupakan amanah
Allah, karena merupakan penjabaran dari khalifatullah.
Sebagai khalifah Allah, sudah menjadi
kewajiban manusia untuk mengemban amanah yang diberikan dijalankan sesuai
dengan pola kehendaknya. Akan tetapi jika manusia menyalahgunakan segala Amanah
yang diberikan Allah SWT, maka malapetaka akan terjadi, yang salah satunya
diakibatkan salah urus manusia
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Arti
ruang lingkup studi islam yaitu dapat di katakan sebagai usaha utnuk
mempelajari hal-hal berhubungan dengan agama islam. Pengertian agama dapat
dilihat dari sudut kebahasan (etimologis) dan sudut istilah (terminologis).
Kata agama secara bahasa berasal dari kata sanksrit yang tersusun dari dua
kata, yakni a = tidak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di
tempat, diwarisi secara turun temurun
Selain
dari kata agama, dikenal juga kata din dari bahasa Arab yang mengandung arti
menguasai, menundukan, patuh, utang, balasan, kebiasaan, dan peraturan.
Pengertian ini juga sejalan dengan kandungan agama yang di dalamnya terdapat
peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganut agama
yang bersangkutan. Selanjutnya agama juga menguasai diri seseorang dan membuat
ia tunduk dan patuh kepada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran agama.
Hubungan
manusia dan agama ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat di pisahkan. Agama
mengambil bagian pada saat-saat yang paling penting dan pada pengalaman hidup
manusia. Agama merayakan kelahiran, menandai pergantian jenjang masa dewasa,
mengesahkan perkawinan, serta kehidupan keluarga, dan melampangkan jalan dari
kehidupan kini menuju kehidupan yang akan datang.
Manusia
dalam aL-Qur’an sering juga disebut Al-Insan. Dalam Al-Qur’an, kata Al-Insan
mengandung pengertian makhluk mukallaf (ciptaan Allah yang dibebani tanggung
jawab) pengembangan Allah SWT dan khalifah Allah SWT dibumi. Atau dalam
pengertian lain, Al-Insandapat di definisikan makhluk Allah yang memiliki
potensi untuk beriman kepada Allah, dengan mempergunakan akalnya mampu memehami
dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam serta akhlak.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan Ali H.M Agama Islam, Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan
Agama Islam, 1994/1995
Fathoni Ahmad Miftah Dr.M.Ag, Pengantar Studi Islam, Semarang: Sunan
Gunung Jati, 2001
Nata Abudin, Metodelogi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2010
Shihab Quraish, Wawasan Qur’an, Bandung: Mizan,1996.
Mukhtarom Asrosi, M.A, Subarkah Abdillah
Milana, M.A, Pengantar Studi Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar