TUGAS MAKALAH
MASYARAKAT DALAM KEBUDAYAAN SEKOLAH
MASYARAKAT DALAM KEBUDAYAAN SEKOLAH
MATA KULIAH : SOSIOLOGI PENDIDIKAN
DOSEN : Dra. Hj. Eny Suhaeni, MSI
DOSEN : Dra. Hj. Eny Suhaeni, MSI
DI SUSUN OLEH :
Kusmiati (1586208036)
Nining Kurnianingsih (1586208041)
Nurul Siska (1586208037)
Risnaini Eka Putri (1586208042)
Siska Riyani (1586208048)
Kusmiati (1586208036)
Nining Kurnianingsih (1586208041)
Nurul Siska (1586208037)
Risnaini Eka Putri (1586208042)
Siska Riyani (1586208048)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015/2016
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015/2016
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang
senantiasa memberikan banyak nikmat tiada henti kepada kita, sehingga tidak ada
alat secanggih apapun yang dapat menghitung nikmat yang diberikan oleh-Nya.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
berjuang menyiarkan ajaran Islam dari zaman jahiliah ke zaman yang ilmiah
seperti sekarang ini.
Makalah
ini berjudul Masyarakat
dalam Kebudayaan Sekolah kami
memilih judul ini untuk mengetahui, mengamati, dan menaggapi persoalan yang terdapat terhadap
judul tersebut secara
efektif.
Setelah
kami berupaya menyelesaikan makalah ini dengan kemampuan yang penulis miliki,
yang proses penyelesaiannya banyak mendapat bantuan dan dorongan dari
berbagai pihak. Untuk itu dengan kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan
terima kasih kepada yang terhormat :
1.
Dra. Hj. Eny Suhaeni,M.Si, sebagai Dosen pengampu yang selalu bersedia di
mintai bantuan dan dengan tulus memberi arahan.
2.
Teman-teman
sejurusan yang saling memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis
pun menyadari sepenuhnya bahwa penyusun makalah ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang konstruktif
untuk menyempurnakan isi dan penampilan makalah ini.
Semoga karya yang sederhana ini dapat
menjadi pustaka yang bermanfaat bagi Penulis khususnya dan rekan –rekan
mahasiswa pada umumnya.
Tangerang, 23 April 2016
Kelompok IV
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR
ISI ..................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1
B. Perumusan Masalah.................................................................................
2
C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN .................................................................................. 4
A. Masuknya Islam
di Andalusia.................................................................
4
B. Perkembangan Islam di Andalusia..........................................................
9
C. Kemajuan
Peradaban Islam di Andalusia ............................................. 11
D. Perkembangan
Pendidikan Islam di Andalusia .................................... 14
E. Penyebab
Kemunduran dan Kehancuran Islam di Andalusia ..... ......... 15
BAB III PENUTUP
......................................................................................... 17
A. Kesimpulan ........................................................................................... 17
B.
Saran ..................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang begitu sering
membicarakan tentang kebudayaan. Juga dalam kehidpan sehari-hari seseorang
tidak mungkin tidak berurusan denganhasil-hasil kebudayaan. Setiap hari orang
melihat, mempergunakan dan bahkan terkadang merusak kebudayaan. Kebudayaan
sebenarnya secara khusus dan lebih teliti dipelajari oleh Antropologi budaya.
Akan tetapi walaupun demikian, seseorang yang memperdalam perhatiannya terhadap
sosiologi dan karena itu memusatkan
perhatiannya terhadap masyarakat, tidak dapat menyampingkan kebudayaan dengan
begitu saja. Karena dikehidupan nyata, keduanya tidak dapat dipisahkan dan
selamanya merupakan dwitunggal. Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang
menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian, tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat
sebagai wadah dan pendukungnya. Walaupun secara teoritis dan untuk kepentigan
analitis, kedua persoalan tersebut dapat dibedakan dan dipelajari secara
terpisah.
Dua orang
Antropolog terkemuka yaitu Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski
mengemukakan bahwa Cultural Detrminism
berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu.1) Kemudian
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang super-organic, karena kebudayaan yang berturun – temurun dari
generasi ke generasi tetap hidup terus walaupun orang – orang menjadi anggota
masyarakat senantiasa silih berganti
disebabkan kematian dan kelahiran.2)
Antara manusia
dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat, karena menjadi manusia tidak
lain adalah merupakan bagia dari hasil kebudayaan itu sendiri. Hampir semua
tindakan manusia merupakan produk kebudayaan.
1Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi, Setangkai Bunga Sosiologi edisi pertama,
(Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, 1954), h. 115.
2Ibid., h. 115.
Interaksi
sosial sangat utama dalam tiap masyarakat. Hubungan antara individu itu bukan
sepihak melainkan timbal balik. Kebudayaan mempengaruhi individu dengan
berbagai cara akan tetapi, individu juga mempengaruhi kebudayaan sehingga
terjadi perubahan sosial.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian masyarakat dan
kebudayaan sekolah?
2. Apa saja yang
menjadi bentuk-bentuk Kebudayaan?
3. Hal apa yang
menjadi komponen-komponen
struktur dari Kebudayaan?
4. Apa saja type-type Kebudayaan?
5. Bagaimana pengaruh kebudayaan
sekolah terhadap masyarakat?
C. Tujuan Penelitian
1.
Untuk
mengetahui pengertian masyarakat dan kebudayaan sekolah.
2.
Untuk mengetahui bentuk – bentuk
Kebudayaan.
3.
Untuk mengetahui komponen – komponen
Kebudayaan.
4.
Untuk mengetahui type – type
Kebudayaan.
5.
Untuk
mengetahui pengaruh kebudayaan sekolah terhadap masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Masyarakat
dan Kebudayan Sekolah.
1. Masyarakat
Dalam
kamus lengkap bahasa Indonesia,masyarakat adalah sejumlah
orang dalam kelompok tertentu yang membentuk perikehidupan yang berbudaya.(
Abu Ahmadi.Sosiologi Pendidikan.1991.hal.62) Masyarakat
sangat luas dan dapat meliputi seluruh umat manusia. Dalam pengelompokan
tersebut sering dibedakan antara kelompok primer dan sekunder. Kelompok primer
merupakan kelompok pertama dimana ia mula- mula berinteraksi dengan orang lain,
yakni keluarga, kelompok sepermainan dan lingkungan tetangga. Dalam kelompok
primer terdapat hubungan temu muka langsung dalam suasana akrab. Dalam kelompok
ini ia mempelajari kebiasaan fundamental seperti bahasa, soal baik buruk,
kemampuan untuk mengurus diri sendiri, kerjasama dan bersaing, disiplin dan
sebagainya. Kelompok primer ini juga sering disebut gemeinschaft.
Kelompok
sekunder dibentuk dengan sengaja atas pertimbangan tertentu berdasarkan
kebutuhan tertentu seperti perkumpulan profesi, organisasi agama, dan partai
politik yang anggotanya mungkin tidak
pernah saling bertemu. Kelompok sekunder ini dapat hidup lama melampau suatu
generasi. Kelompok sekunder sering disebut dengan gesellschaft.
Penggolongan
berdasarkan fungsinya ada dua yaitu:
a. Kelompok orang dalam (in-group)
Kelompok
orang dalam terdapat dalam kelompok primer maupun sekunder, dalah kelompok yang
kita rasakan sebagai solider, setia, akrab, bersahabat dan rapat. Kita merasa
bersatu seperasaan, sepemikiran, seperbuatan dengan mereka, dan rela mempertahankan, melindungi dan berkorban
sehingga kita saling merasa senang, memahami penuh cinta dan simpati. Rasa in-
group sangat kuat dikalangan murid- murid, khususnya pada tingkat SLTA.
b. Kelompok
orang luar (out-group)
Terhadap
kelompok orang luar kita merasa tidak
senang, bahkan benci, menganggapnya sebagai sainggan, lawan dan ancaman.
Dalam kelompok ini suatu kelompok akan merasa lebih baik dari pada kelompok
orang lain. Bangsa, agama, sekolah dirasa melebihi kelompok orang lain.
2.
Kebudayaan Sekolah
Sistem pendidikan mengembangkan pola kelakuan
tertentu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat dari murid-murid.
Kehidupan disekolah dan norma-norma yang berlaku dapat disebut dengan
kebudayaan sekolah. Walaupun kebudayaan sekolah merupakan kebudayaan dari
kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas sebagai suatu
“subculture”. Sekolah bertugas untuk menyampaikan kebudayaan kepada generasi
baru dan karena itu harus selalu memperhatikan masyarakat dan kebudayaan umum.
Timbulnya
sub-kebudayaan sekolah juga terjadi oleh sebab sebagian yang cukup besar dari
waktu murid yang terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam situasi yang
serupa ini dapat berkembang pola kelakuan yang khas bagi anak muda yang tampak
dari pakaian, bahasa, kebiasaan kegiatan-kegiatan serta upacara-upacara. Sebab
lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yakni mendidik
anak dengan menyampaikan sejumlah pengetahuan, sikap, keterampilan yang sesuai
dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku
disekolah itu.
Tiap kebudayaan mengandung bentuk
kelakuan yang diharapkan dari anggotanya. Disekolah diharapkan bentuk kelakuan
tertentu dari semua murid dan guru. Itulah yang menjadi norma bagi setiap murid
dan guru.
a. Kenaikan kelas
Belajar dengan rajin agar naik kelas
merupakan patokan yang mempengaruhi kehidupan anak selama bersekolah. Untuk itu
ia harus menguasai bahan pelajaran yang ditentukan oleh kurikulum yang sering
diolah dalam bentuk buku pelajaran, diktat atau kitab catatan. Dengan nilai
atau tes ulangan guru menilai kemampuan anak. Hak guru memberi angka memberinya
kekuasaan yang disegani murid. Ada juga guru yang bila perlu menggunakan angka
itu untuk menegakkan kekuasaannya. Guru itu disebut “killer” sangat ditakuti.
Angka rapor menjadi dasar bagi
kenaikan kelas. Pemberian rapor dan penentuan kenaikan kelas sering dilakukan
dengan upacara tertentu sekalipun sederhana. Tinggal kelas merupakan masalah
yang berat bagi murid. Bagi anak yang bersangkutan ini bahwa ia akan
ditinggalkan oleh teman-temannya selama setidaknya satu tahun dan ia harus
masuk kelompok anak-anak yang lebih muda daripadanya yang selama ini lebih
rendah kedudukannya. Oleh sebab itu kenaikan kelas merupakan hal yang sangat
penting maka murid-murid biasanya belajar untuk memperoleh angka yang baik ,
walaupun ilmu itu juga penting.
b. Upacara-upacara
Peristiwa yang biasanya dilakukan
dengan upacara ialah penerimaan murid baru. Pada waktu yang lalu murid-murid
SMA turut melakukan masa perkenalan, meniru kakak-kakaknya diperguruan tinggi.
Sebenarnya mereka mengikuti jejak mahasiswa zaman kolonial, yang menerima
mahasiswa baru dengan upacara perpeloncoan. Masa “perkenalan” itu memang banyak
dan sering menyimpang dari tujuannya yakni memperkenalkan sekolah sebagai
lembaga pendidikan kepada siswa-siswa baru.
Upacara yang menggembirakan ialah
upacara wisuda yang melepaskan para siswa yang telah lulus yang kemudian akan
melanjutkan pelajaran pada lembaga pendidikan yang lebih tinggi atau mengadu
nasibnya dalam dunia pekerjaan.
Upacara itu melambangkan beberapa
hal:
1. Untuk menyatakan besarnya nilai
pendidikan bagi pembinaan generasi muda dan kepercayaan bahwa pendidikan
membawa kemajuan bagi setiap siswa. Dalam penyelenggaraan sekolah sering
diperlukan dukungan dan bantuan orang tua, spiritual, maupun materiil sebagai
partner pemerintah.
2. Bagi mereka yang lulus, wisuda itu
merupakan pengakuan atas taraf pendidikan yang telah mereka capai. Wisuda
mengakhiri periode tertentu dalam hidupnya dan membuka lembaran baru serta
memasukiperiode yang baru dan masa menuju kedewasaan. Selain itu wisuda
merupakan tanda penghargaan atas keberhasilan siswa dalam pelajarannya yang
diperoleh dengan jerih payah.
3. Upacara Bendera, Ada sekolah yang memulai
sekolah dengan mengumpulkan murid-murid untuk upacara namun ada juga sekolah
swasta mungkin mulai dengan do’a serta pengumuman dan petunjuk dari kepala
sekolah. Ada pula yang memulai dengan senam pagi atau dengan kegiatan lain. Upacara
ini selain mempunyai fungsi control juga menanamkan rasa identifikasi anak
dengan sekolahnya dan semangat persatuan serta rasa turut bertanggung jawab
atas nama baik sekolahnya.
Suatu
upacara yang diwajibkan bagi tiap sekolah dinegara kita adalah upacara bendera
pada setiap hari senin tiap minggu dan pada tanggal 17 tiap bulan. Upacara
bertujuan untuk menanamkan rasa kebangsaan dengan meresapkan dasar pikiran, dan
cita-cita serta norma-norma yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945,
Pancasila, dan Sumpah Pemuda. Kesempatan ini juga dapat digunakan oleh Kepala
Sekolah untuk berbagai pengumuman dan petunjuk-petunjuk lainnya demi kebaikan
sekolah. Upacara dianggap sebagai kesempatan yang yang penting untuk menyampaikan
dan menerima pesan-pesan.
Upacara-upacara
lain yang terdapat disekolah ialah pergantian pengurus OSIS, penyerahan tanda
penghargaan atas kemenangan atas kemenangan dalam berbagai pertandingan dan
perlombaan kemenangan ini sangat meningkatkan rasa kebangsaaan atas sekolah
sendiri serta identifikasi murid dengan sekolahnya. Prof . (Dr. S.
Nasution, M.A, ibid, hal:65-68)
B.
Bentuk-bentuk
Kebudayaan
Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk
mengklasifikasikan corak atau isi atau bentuk kebudayaan . walaupun begitu
,berbagai macam klasifikasi yang dibuat oleh para ahli ilmu sosial itu bukan
berbeda – beda dalam spesifikasinya . para ahli sosiologi pada umumnya
sependapat bahwa isi dari kebudayaan itu dapat menjadi dua buah unsur komponen
yang nyata , yaitu komponen material dan non material.
1. Kebudayaan
Materi
Bagian
materi dari suatu kebudayaan itu meliputi segala sesuatu yang telah diciptakan
dan digunakan oleh manusia dan mempunyai bentuk yang dapatdilihat dan diraba.
Komponen-komponen semacam itu mungkin meliputi tempayan-tempayan tanah liat
yang dibuat oleh suatu suku bangsa primitif maupun kapsul-kapsul ruang angkasa
yang dibuat serta dihancurkan oleh para ahli yang terpandai dari suatu bangsa
yang sudah maju. Kedua benda itu ditandai dengan adanya suatu bentuk fisik dan
yang menggolongkan kedua jenis benda tersebut didalam ruang lingkup kebudayaan
materi. Dengan kata lain, eksistensi yang konkrit dari suatu produk buatan
manusia, tanpa memandang apapun juga ukuran, kerumitan pembuatan, tujuan, atau
bentuknya, memberikan ciri kebudayaan itu. Rumah, pakaian, mobil, kapal, gedung
dan pesawat televise, semua nya ini adalah contoh-contoh dari kebudayaan materi
tersebut.
Meskipun
pada kenyataan nya, kebudayaan materi itu mudah dikenali, kebudayaan tersebut
mempunyai kaitan dengan aspek-aspek dan materi dari kebudayaan yang tidak
begitu mudah dipahami. Ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa benda yang sama
boleh jadi mempunyai kegunaan atau arti yang berbeda didalam kebudayaan yang
berlainan. Busur dan anak panah mungkin merupakan suatu senjata untuk
mempertahankan diri dan alat untuk membunuh binatang buruan bagi suku-suku
primitif, sedangkan didalam suatu masyarakat yang maju busur dan anak panah itu
akan dianggap mainan atau sebagai sebuah perlengkapan olahraga. Sehubungan
dengan ini, penting nya pertanyaan tentang nilai-nilai atau norma-norma maupun
pertanyaan tentang tingkat teknologi, mempunyai relevansi. Walaupun begitu,
suatu pembahasan mengenai nilai-nilai sosial itu kira nya lebih sesuai dengan
topic kebudayaan dan materiyang akan diberikan dibawah ini.
2.
Kebudayaan Non Materi
Aspek non materi dari kebudayaan itu
merangkum semua buah karya manusia yang ia gunakan untuk menjelaskan serta
dijadikan pedoman bagi tindakan-tindakan nya, dan itu tak hanya ditemukan
didalam pikiran nya orang-orang. Dikenal dua buah kategori dari kebudayaan non
material itu. Kategori pertama meliputi apa yang secara luas dapat
didefinisikan sebagai nirma-norma individu, sedangkan kategori kedua melipiti
kelompok norma-norma yang membentuk pranata sosial atau sosial institution.
a.
Norma-norma
Norma-norma itu dapat didefinisikan
sebagai standard-stand-dard tingkah laku yang terdapat didalam semua
masyarakat, seperti misal nya bagaimana saran berpakaian pada
peristiwa-peristiwa tertentu atau bagaimana menegur atau menyapa orang-orang dari
kelas-kelas yang berlainan. Sebagai suatubagian dari kebudayaan dan materi,
norma-norma tersebut menyatakan konsepsi yang teridealisir dari tingkah laku.
Sudah barang tentu memang benar bahwa tingkah laku erat hubungan nya dengan apa
yang menurut pendapat seseorang itu benar atau baik; walaupun begitu, tingkah
laku yang sebenar nya dipandang sebagai suatu aspek dari organisasi sosial,
sebagaimana yang dikemukakan di muka, dan bukan aspek dari kebudayaan.
Istilah
norma itu diinterprestasikan mencakup pengetahuan, keyakinan dan nilai-nilai. Konsep-konsep
ini telah banyak didefinisikan dan dibahas sebagai unsure-unsur dari
sistem-sistem sosial. Walaupun begitu, tidak adasalah nyabila dikemukakan bahwa
semua pengertian yang ada pada pikiran manusia tentang diri nya sendiri, dunia
nya, serta hubungan dengan sesama nya membentuk kumpulan ide-ide (norma-norma)
mereka. Di dalam pengertian kebudayaan ide-ide merangkum folklore (kisah-kisah
rakyat), doktrin-doktrin keagamaan, teori-teori dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan,
filsafat pendidikan dan pemerintahan, aturan-aturan olahraga, perasaan-perasaan
abstrak, sistem-sistem moralita serta etika maupun penjelasan-penjelasan lain
dari dunia dimana seseorang itu hidup.
Sedikit
banyak norma-norma itu berlainan antara individu atau kelompok yang satu dengan
individu atau kelompok yang lain karena adanya sebab-sebab seperti yang sudah
dikemukakan di dalam uraian di muka sistem-sistem nilai dan keyakinan yang
berkembang didalam masyarakat-masyarakat tertentu, ditinjau dari sudut
kebudayaan, memisahkan masyarakat-masyarakat itu dari masyarakat-masyarakat
yang lain dan dari itu berkembang corak nilai-nilai dan keyakinan yang
berbeda-beda. Salah satu kenyataan yang
memberikan penjelasan kepada ahli sosiologi mengenai timbul nya tingkah laku
yang berbeda.
b. Institusi-institusi
Institusi-institusi
sosial pada hakikat nya adalah kumpulan-kumplan dari norma-norma
(struktur-struktur sosial) yang telah diciptakan untuk dapat melaksanakan suatu
fungsi dari masyarakat. Institusi-institusi ini berbeda dari norma-norma diatas
didalam pengertian bahwa institusi-institusi tersebut meliputi
kumpulan-kumpulan norma dan bukan nya norma-norma yang berdiri sendiri-sendiri.
Orang
memandang “keluarga” (family) sebagai suatu kelompok sosial tetapi ia tidak
boleh mengacaukan konsep ini dengan keluarga sebagai suatu institusi sosial.
Sebagai institusi sosial keluarga bukanlah sebuah kelompok melainkan
serangkaian pola-pola tingkah laku yang berhubungan dengan fungsi-fungsi untuk
melahirkan (menurunkan) keturunan dan berfungsi sebagai perlengkapan masyarakat
didalam membentuk warga yang mencerminkan identitas setempat. Keluarga sebagai
sebuah kelompok sosial menjalankan banyak fungsi-fungsi institusi yang
berhubuungan dengan institusi-institusi sosial diluar Keluarga, seperti misal
nya agama atau politik.
Norma-norma
dan institusi-institusi dapat dikaitkan dengan cara demiikian. Keyakinan
terhadap monogamy atau terhadap keesaan tuhan adalah ide-ide yang dapat di
klasifikasikan sebagai norma-norma tunggal. Institusi keluarga dan agama
terbentuk dari suatu paduan norma-norma yang mencangkup norma kawin dengan
hanya seorang istri didalam institusi yang pertama dan norma menyembah satu
tuhan didalam institusi yang kedua.
C.
Komponen-komponen
Struktur dan Kebudayaan.
Penyelidik yang berminat untuk mengadakan suatu
analisa yang cermat dan terperinci terhadap suatu kebudayaan tertentu, pada
umumnya berpatokan kepada apa yang disebut komopnen-komponen struktur
kebudayaan. Ini adalah suatu cara untuk meninjau isi atau susunan dari
kebudayaan, yang mempunyai keuntungan-keungtungan analisa tertentu. Yang terutama
ialah bahwa cara ini memberikan kemungkinan kepada orang itu untuk membuat
daftar catalog dari tingkah laaku yang konkrit yang mungkin menjadi ciri dari
satu individu atau kelompok tertentu. Klasifikasi bisa di lakukan karena
kebudayaan bukanlah hanya emata-mata merupakan suatu kumpulan dari ide-ide
(norma-norma), melainkan suatu sistem yang teratur dari tingkah.
Komponen-komponen strukrur dari kebudayaan sebagai suatu konsep sangat membantu
orang untuk menghayati organisasi (sistem) tingkah laku.
1. Elemen-elemen
Kebudayaan (Culture Traits)
Unit
terkecil dari kebudayaan.yang dapat didentifisir ( kenali) disebut istilah
elemen kebudayaan. Dalam hal ini hendaknya berhati-hti untuk tidak mengacaukan
antara bahan-bahan mentah dan kebudayaan. Misalnya, sebatang pensil dapat
dikatan sebagai sebuah benda kebudayaan karena pensil merupakan suatu produk
materi dari tingkah laku yang di pelajari. Memperdabatkan apakah termasuk
elemen kebudayaan ataukah tidak, misalnya kayu, grafit pada pensil itu, cat
warna dari pensil itu, dan karet penghapus diujung pensil, berarti masih belum
memahami masalahnya. Jika unit yang menjadi masalah itu belum menunjukan suatu
kombinasi dari materi, tindakan dan ide-ide yang berkaitan dengan suatu
kebutuhan atau situasi tertentu, maka unit itu memenuhi syarat untuk dikatakan
sebagai sebuah elemen kebudayaan. Dengan
dengan kata lain, cirri-ciri semacam itu harus berhubungan dengan suatu
lokalitas kebudayaan yang lebih besar, sebagaimaa yang akan disaksikan di dalam
uraian mengenai kompleks-komplokes kebudayaan dibawah ini.
Suatu
elemen kebudayaan materi boleh jadi lebih mudah dikenali dari pada suatu elemen
kebudayaan non-materi. Contoh-contoh untuk yang pertama antara lain ilah benda-benda
seperti bola sepak, pensil, dasi, lipstik atau ujung anak panah. Elemen-elemen
kebudayaan non-materi antara lain ialah tindakan-tindakan serta praktek-praktek
seperti aturan yang mengatakan bahwa gadis-gadis yang tinggal di asrama harus
sudah masuk kekamarnya pada jam 1.00 malam, menyebut orang laki-laki yang patut
dihormati dengan “pak” keharusan untuk memperoleh nilai rata-rata C supaya
seorang siswa dapat lulus dan undang-undang yang mengatakan bahwa supaya
seseorang mempunyai hak pilih harus sudah berumur 21tahun. Setiap kebudayaan
benar-benar memiliki beribu-ribu ciri kebudayaan, yang dapat dianggap sebagai
unit dasar dari kebudayaan itu.
2. Kompleks
kebudayaan
Di
dalam uraian diatas setelah di kemukakan bahwa elemen-elemen kebudayaan jarang
sekali, atau hamper-hampir tidak pernah ada secara terpisah dari elemen-elemen
lain didalam suatu kebudayaan tertentu. Istilah yang dipakai untuk menyatakan
suatu kombinasi dari elemen-elemen yang saling berkaitan yang membentuk
persyaratan-persyaratan kebudayaan untuk situasi-situasi atau aktivitas-aktivas
tertentu ialah kompleks kebudayaan. Permainan sepak bol menunjukan suatu
kompleks kebudayaan, karena meliputi bola sepak ditambah sutau aturan permainan
(sebagai elemen kebudayaan) dan lain-lainnya.
Kadang-kadang
ada kekacauan mengenai perbedaan-perbedaan antara kata-kata elemen dan
kompleks. Sebenarnya elemen-elemen kebudayaan yang sama didalam peristiwa yang
satu dapat disebut sebagai trait tetapi didalam peristiwa lain disebut sebagai
kompleks, kontradiksi yang nyata ini akan dapat didekatkan satu sama lain melalui
konteks dari pokok pembicaraan. Contohnya sebuah mobil dapat dikatan sebagai
elemen (trait) kebudayaan bila dilihat kepada suatu kompleks pengangkutan.
Sebaliknya, sebuah dan dapat dikatakan sebagai ciri kebudayaan bila pembicaraan
yang dilakukan itu berintikan pada mobil itu sebagai suatu kompleks kebudayaan.
Suatu aturan yang baik untuk diikuti ialah bahwa trait-trait merupakan
unit-unit atau bagian-bagian terkecil yang mempunyai nilai penting secara
langsung guna memahami kompleks kebudayaan tertentu.
D.
Tipe-tipe
Partisipasi Kebudayaan
1. Partisipasi
menyeluruh (universals)
Adalah
trait- trait kebudayaan yang diperlukan bagi seluruh anggota dari suatu masyarakat. Kebudayaan itu
diperlukan untuk eksistensi mereka didalam suatu masyarakat bangsa tertentu,
dan ini mencangkup undang- undang serta adat kebiasaan yang berhubungan dengan
kehidupan keluarga, persekolahan, aktivitas bisnis, dan sebagainya.
2. Partisipasi
pilihan (alternatives)
Situasi-
situasi dimana individu bias memilih
beberapa kemungkinan tindakan yang sama, atau hamper sama baiknya dimata
masyarakat yang lebih besar.
3. Partisipasi
kekhususan (speciality)
Aspek-
aspek unik dari kebudayaan yang tidak diikuti oleh orang ramai secara umum,
semua kelompok masyarakat yang besar meliputi kelompok- kelompok yang dapat
dikatakan khusus didalam pengertian propesi, pekerjaan atau keagamaan.
E.
Pengaruh
Kebudayaan Sekolah Terhadap Masyarakat
Sekolah yang berorentasi penuh kepada kehidupan
masyarakat disebut Community school atau sekolah masyarakat.Sekolah ini
berorentasi pada masalah-masalah kehidupan dalam masyarakat seperti masalah
usaha manusia melestarikan alam, memanfaatkan sumber-suber alam dan manusia,
masalah kesehatan, kewarganegaraan, penggunaan waktu senggang, komunikasi,
transport, dan sebagainya.Dalam kurikulum ini anak dididik agar turut serta
dalam kegiatan masyarakat. Pelajaran
mengutamakan kerja kelompok. Dengan sendirinya kurikulum itu fleksibel, berbeda
dari sekolah ke sekolah,dari tahun ke tahun dan tidak dapat ditentukan secara
uniform.murid-murid mempelajari lingkungan sosialnya untuk mengidentifikasi
masalah-maslah yang dapat dijadikan pokok bagi suatu unit pelajaran.Khususnya
yang memberi kesempatan kepada
murid-murid untuk meningkatkan mutu kehidupan dalam masyarakat sekitarnya.
Dalam melaksanakan program sekolah, masyarakat turut
sertakan. Tokoh-tokoh dari setiap aspek kehidupan masyarakat seperti dari dunia
perusahaan, pemerintah, agama, politik, dan sebagainya.diminta bekerja sama
dengan sekolah dalam peroyek perbaikan masyarakat. Untuk itu diperlukan
masyarakat yang turut bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan
pendidikan anak.Sekolah dan masyarakat dalam hal ini bekerja sama dalam suatu
aksi social.
Banyak kesulitan yang dihadapi bila kita ingin
menjalan kan sekolah seperti itu.Meminta waktu dan tenaga tokoh-tokoh
masyarakat dalam suatu proyekpelajaran sekolah akan bayank menemui rintangan.
Demikian pula bila anak ingin mengunjungi berbagai kantor, Pabrik,
Perusahaandan sebagainya.Kurikulum sekolah sepenuh nya di dasarkanatas
maslah-maslah masyarakat yang mendapat kencamanyang pedasdari golongan yang
menginginkan kurikulum akademis
berdasarkan disiplin ilmu.Setelah peluncuran sputnik kurikulum yang
subject-contered berupa mata pelajaranatau bidang setudi kembali mendapat
peranan utama.
Sekarang mungkin jarang terdapat orang yang
berpegang sepenuhnya pada prinsip-prinsip community school.Akan tetapi walaupun
kurikulum bersifat subject-centered, perlu juga berorientasi pada anak dan
masyarakat.Tak mungkin kurikulum efektif tanpa memperhitungkan anak dan tak ada
kurikulum yang tidak mempersiapkan anak untuk masyarakat.Setiap sekolah harus
relevan dengan kebutuhan masyarakat karena sekolah didiirikan oleh masyarakat
untuk mempersiapkan anak untuk masyarakat.Maka kerena itu guru perlu
mempelajari dan mengenal masyarakat sekitarnya.
(11.Nasution.Sosiologi Pendidikan.2004.Ed
2.Cet 3.hal 149
DAFTAR PUSTAKA
Nasution.2004.Sosiologi
Pendidikan.Bumi Aksara: Bandung
elo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi, Setangkai Bunga Sosiologi edisi pertama,
(Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, 1954).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar