Kamis, 19 Mei 2016

sosiologi pendidikan



TUGAS MAKALAH
MASYARAKAT DALAM KEBUDAYAAN SEKOLAH

MATA KULIAH : SOSIOLOGI PENDIDIKAN
DOSEN : Dra. Hj. Eny Suhaeni, MSI

DI SUSUN OLEH :

Kusmiati                                 (1586208036)
Nining Kurnianingsih           (1586208041)
Nurul Siska                            (1586208037)
Risnaini Eka Putri                (1586208042)
Siska Riyani                           (1586208048)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015/2016


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang senantiasa memberikan banyak nikmat tiada henti kepada kita, sehingga tidak ada alat secanggih apapun yang dapat menghitung nikmat yang diberikan oleh-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah berjuang menyiarkan ajaran Islam dari zaman jahiliah ke zaman yang ilmiah seperti sekarang ini.
            Makalah ini berjudul Masyarakat dalam Kebudayaan Sekolah kami memilih judul ini untuk mengetahui, mengamati, dan menaggapi persoalan yang terdapat terhadap judul tersebut secara efektif.
            Setelah kami berupaya menyelesaikan makalah ini dengan kemampuan yang penulis miliki, yang proses penyelesaiannya banyak mendapat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :
1.           Dra. Hj. Eny Suhaeni,M.Si, sebagai Dosen pengampu yang selalu bersedia di mintai bantuan dan dengan tulus memberi arahan.
2.           Teman-teman sejurusan yang saling memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
            Penulis pun menyadari sepenuhnya bahwa penyusun makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang konstruktif untuk menyempurnakan isi dan penampilan makalah ini.
            Semoga karya yang sederhana ini dapat menjadi pustaka yang bermanfaat bagi Penulis khususnya dan rekan –rekan mahasiswa pada umumnya.
                                                           
Tangerang, 23 April 2016

                                                                                                  Kelompok IV



DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ......................................................................................  i
DAFTAR ISI .....................................................................................................  ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................  1
A.    Latar Belakang Masalah .........................................................................  1
B.     Perumusan Masalah................................................................................. 2
C.     Tujuan Penelitian ....................................................................................  2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................  4
A.    Masuknya Islam di Andalusia................................................................. 4
B.     Perkembangan Islam di Andalusia.......................................................... 9
C.     Kemajuan Peradaban Islam di Andalusia .............................................  11
D.    Perkembangan Pendidikan Islam di Andalusia ....................................  14
E.     Penyebab Kemunduran dan Kehancuran Islam di Andalusia ..... ......... 15
BAB III PENUTUP ......................................................................................... 17
A.    Kesimpulan ...........................................................................................  17
B.     Saran .....................................................................................................  18
DAFTAR PUSTAKA













BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang begitu sering membicarakan tentang kebudayaan. Juga dalam kehidpan sehari-hari seseorang tidak mungkin tidak berurusan denganhasil-hasil kebudayaan. Setiap hari orang melihat, mempergunakan dan bahkan terkadang merusak kebudayaan. Kebudayaan sebenarnya secara khusus dan lebih teliti dipelajari oleh Antropologi budaya. Akan tetapi walaupun demikian, seseorang yang memperdalam perhatiannya terhadap sosiologi dan karena  itu memusatkan perhatiannya terhadap masyarakat, tidak dapat menyampingkan kebudayaan dengan begitu saja. Karena dikehidupan nyata, keduanya tidak dapat dipisahkan dan selamanya merupakan dwitunggal. Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian, tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Walaupun secara teoritis dan untuk kepentigan analitis, kedua persoalan tersebut dapat dibedakan dan dipelajari secara terpisah.
Dua orang Antropolog terkemuka yaitu Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa Cultural Detrminism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu.1) Kemudian Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang super-organic, karena kebudayaan yang berturun – temurun dari generasi ke generasi tetap hidup terus walaupun orang – orang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti  disebabkan kematian dan kelahiran.2)
Antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat, karena menjadi manusia tidak lain adalah merupakan bagia dari hasil kebudayaan itu sendiri. Hampir semua tindakan manusia merupakan produk kebudayaan.


1Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi, Setangkai Bunga Sosiologi edisi pertama, (Jakarta:   Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1954), h. 115.
2Ibid., h. 115.

Interaksi sosial sangat utama dalam tiap masyarakat. Hubungan antara individu itu bukan sepihak melainkan timbal balik. Kebudayaan mempengaruhi individu dengan berbagai cara akan tetapi, individu juga mempengaruhi kebudayaan sehingga terjadi perubahan sosial.


B.  Rumusan Masalah
1. Apa pengertian masyarakat dan kebudayaan sekolah?
2. Apa saja yang menjadi bentuk-bentuk Kebudayaan?
3. Hal apa yang menjadi komponen-komponen struktur dari Kebudayaan?
4. Apa saja type-type Kebudayaan?
5. Bagaimana pengaruh kebudayaan sekolah terhadap masyarakat?

C. Tujuan Penelitian
1.   Untuk mengetahui pengertian masyarakat dan kebudayaan sekolah.
2.   Untuk mengetahui bentuk – bentuk Kebudayaan.
3.   Untuk mengetahui komponen – komponen Kebudayaan.
4.   Untuk mengetahui type – type Kebudayaan.
5.   Untuk mengetahui pengaruh kebudayaan sekolah terhadap masyarakat.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Masyarakat dan Kebudayan Sekolah.
1.      Masyarakat
Dalam kamus lengkap bahasa Indonesia,masyarakat  adalah sejumlah orang dalam kelompok tertentu yang membentuk perikehidupan yang berbudaya.( Abu Ahmadi.Sosiologi Pendidikan.1991.hal.62) Masyarakat sangat luas dan dapat meliputi seluruh umat manusia. Dalam pengelompokan tersebut sering dibedakan antara kelompok primer dan sekunder. Kelompok primer merupakan kelompok pertama dimana ia mula- mula berinteraksi dengan orang lain, yakni keluarga, kelompok sepermainan dan lingkungan tetangga. Dalam kelompok primer terdapat hubungan temu muka langsung dalam suasana akrab. Dalam kelompok ini ia mempelajari kebiasaan fundamental seperti bahasa, soal baik buruk, kemampuan untuk mengurus diri sendiri, kerjasama dan bersaing, disiplin dan sebagainya. Kelompok primer ini juga sering disebut gemeinschaft.
Kelompok sekunder dibentuk dengan sengaja atas pertimbangan tertentu berdasarkan kebutuhan tertentu seperti perkumpulan profesi, organisasi agama, dan partai politik yang  anggotanya mungkin tidak pernah saling bertemu. Kelompok sekunder ini dapat hidup lama melampau suatu generasi. Kelompok sekunder sering disebut dengan gesellschaft.
Penggolongan berdasarkan fungsinya ada dua yaitu:
a.        Kelompok orang dalam (in-group)
Kelompok orang dalam terdapat dalam kelompok primer maupun sekunder, dalah kelompok yang kita rasakan sebagai solider, setia, akrab, bersahabat dan rapat. Kita merasa bersatu seperasaan, sepemikiran, seperbuatan dengan mereka,  dan rela mempertahankan, melindungi dan berkorban sehingga kita saling merasa senang, memahami penuh cinta dan simpati. Rasa in- group sangat kuat dikalangan murid- murid, khususnya pada tingkat SLTA.

b.      Kelompok orang luar (out-group)
Terhadap kelompok orang luar kita merasa tidak  senang, bahkan benci, menganggapnya sebagai sainggan, lawan dan ancaman. Dalam kelompok ini suatu kelompok akan merasa lebih baik dari pada kelompok orang lain. Bangsa, agama, sekolah dirasa melebihi kelompok orang lain.

2.      Kebudayaan Sekolah
  Sistem pendidikan mengembangkan pola kelakuan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat dari murid-murid. Kehidupan disekolah dan norma-norma yang berlaku dapat disebut dengan kebudayaan sekolah. Walaupun kebudayaan sekolah merupakan kebudayaan dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas sebagai suatu “subculture”. Sekolah bertugas untuk menyampaikan kebudayaan kepada generasi baru dan karena itu harus selalu memperhatikan masyarakat dan kebudayaan umum.
Timbulnya sub-kebudayaan sekolah juga terjadi oleh sebab sebagian yang cukup besar dari waktu murid yang terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam situasi yang serupa ini dapat berkembang pola kelakuan yang khas bagi anak muda yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan kegiatan-kegiatan serta upacara-upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak dengan menyampaikan sejumlah pengetahuan, sikap, keterampilan yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku disekolah itu.
Tiap kebudayaan mengandung bentuk kelakuan yang diharapkan dari anggotanya. Disekolah diharapkan bentuk kelakuan tertentu dari semua murid dan guru. Itulah yang menjadi norma bagi setiap murid dan guru.

a.       Kenaikan kelas
Belajar dengan rajin agar naik kelas merupakan patokan yang mempengaruhi kehidupan anak selama bersekolah. Untuk itu ia harus menguasai bahan pelajaran yang ditentukan oleh kurikulum yang sering diolah dalam bentuk buku pelajaran, diktat atau kitab catatan. Dengan nilai atau tes ulangan guru menilai kemampuan anak. Hak guru memberi angka memberinya kekuasaan yang disegani murid. Ada juga guru yang bila perlu menggunakan angka itu untuk menegakkan kekuasaannya. Guru itu disebut “killer” sangat ditakuti.
Angka rapor menjadi dasar bagi kenaikan kelas. Pemberian rapor dan penentuan kenaikan kelas sering dilakukan dengan upacara tertentu sekalipun sederhana. Tinggal kelas merupakan masalah yang berat bagi murid. Bagi anak yang bersangkutan ini bahwa ia akan ditinggalkan oleh teman-temannya selama setidaknya satu tahun dan ia harus masuk kelompok anak-anak yang lebih muda daripadanya yang selama ini lebih rendah kedudukannya. Oleh sebab itu kenaikan kelas merupakan hal yang sangat penting maka murid-murid biasanya belajar untuk memperoleh angka yang baik , walaupun ilmu itu juga penting.

b.      Upacara-upacara
Peristiwa yang biasanya dilakukan dengan upacara ialah penerimaan murid baru. Pada waktu yang lalu murid-murid SMA turut melakukan masa perkenalan, meniru kakak-kakaknya diperguruan tinggi. Sebenarnya mereka mengikuti jejak mahasiswa zaman kolonial, yang menerima mahasiswa baru dengan upacara perpeloncoan. Masa “perkenalan” itu memang banyak dan sering menyimpang dari tujuannya yakni memperkenalkan sekolah sebagai lembaga pendidikan kepada siswa-siswa baru.
Upacara yang menggembirakan ialah upacara wisuda yang melepaskan para siswa yang telah lulus yang kemudian akan melanjutkan pelajaran pada lembaga pendidikan yang lebih tinggi atau mengadu nasibnya dalam dunia pekerjaan.
Upacara itu melambangkan beberapa hal:
1.      Untuk menyatakan besarnya nilai pendidikan bagi pembinaan generasi muda dan kepercayaan bahwa pendidikan membawa kemajuan bagi setiap siswa. Dalam penyelenggaraan sekolah sering diperlukan dukungan dan bantuan orang tua, spiritual, maupun materiil sebagai partner pemerintah.
2.      Bagi mereka yang lulus, wisuda itu merupakan pengakuan atas taraf pendidikan yang telah mereka capai. Wisuda mengakhiri periode tertentu dalam hidupnya dan membuka lembaran baru serta memasukiperiode yang baru dan masa menuju kedewasaan. Selain itu wisuda merupakan tanda penghargaan atas keberhasilan siswa dalam pelajarannya yang diperoleh dengan jerih payah.
3.      Upacara Bendera, Ada sekolah yang memulai sekolah dengan mengumpulkan murid-murid untuk upacara namun ada juga sekolah swasta mungkin mulai dengan do’a serta pengumuman dan petunjuk dari kepala sekolah. Ada pula yang memulai dengan senam pagi atau dengan kegiatan lain. Upacara ini selain mempunyai fungsi control juga menanamkan rasa identifikasi anak dengan sekolahnya dan semangat persatuan serta rasa turut bertanggung jawab atas nama baik sekolahnya.
Suatu upacara yang diwajibkan bagi tiap sekolah dinegara kita adalah upacara bendera pada setiap hari senin tiap minggu dan pada tanggal 17 tiap bulan. Upacara bertujuan untuk menanamkan rasa kebangsaan dengan meresapkan dasar pikiran, dan cita-cita serta norma-norma yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, dan Sumpah Pemuda. Kesempatan ini juga dapat digunakan oleh Kepala Sekolah untuk berbagai pengumuman dan petunjuk-petunjuk lainnya demi kebaikan sekolah. Upacara dianggap sebagai kesempatan yang yang penting untuk menyampaikan dan menerima pesan-pesan.
Upacara-upacara lain yang terdapat disekolah ialah pergantian pengurus OSIS, penyerahan tanda penghargaan atas kemenangan atas kemenangan dalam berbagai pertandingan dan perlombaan kemenangan ini sangat meningkatkan rasa kebangsaaan atas sekolah sendiri serta identifikasi murid dengan sekolahnya. Prof . (Dr. S. Nasution, M.A, ibid,  hal:65-68)

B.     Bentuk-bentuk Kebudayaan
Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk mengklasifikasikan corak atau isi atau bentuk kebudayaan . walaupun begitu ,berbagai macam klasifikasi yang dibuat oleh para ahli ilmu sosial itu bukan berbeda – beda dalam spesifikasinya . para ahli sosiologi pada umumnya sependapat bahwa isi dari kebudayaan itu dapat menjadi dua buah unsur komponen yang nyata , yaitu komponen material dan non material.
1.      Kebudayaan Materi
Bagian materi dari suatu kebudayaan itu meliputi segala sesuatu yang telah diciptakan dan digunakan oleh manusia dan mempunyai bentuk yang dapatdilihat dan diraba. Komponen-komponen semacam itu mungkin meliputi tempayan-tempayan tanah liat yang dibuat oleh suatu suku bangsa primitif maupun kapsul-kapsul ruang angkasa yang dibuat serta dihancurkan oleh para ahli yang terpandai dari suatu bangsa yang sudah maju. Kedua benda itu ditandai dengan adanya suatu bentuk fisik dan yang menggolongkan kedua jenis benda tersebut didalam ruang lingkup kebudayaan materi. Dengan kata lain, eksistensi yang konkrit dari suatu produk buatan manusia, tanpa memandang apapun juga ukuran, kerumitan pembuatan, tujuan, atau bentuknya, memberikan ciri kebudayaan itu. Rumah, pakaian, mobil, kapal, gedung dan pesawat televise, semua nya ini adalah contoh-contoh dari kebudayaan materi tersebut.
Meskipun pada kenyataan nya, kebudayaan materi itu mudah dikenali, kebudayaan tersebut mempunyai kaitan dengan aspek-aspek dan materi dari kebudayaan yang tidak begitu mudah dipahami. Ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa benda yang sama boleh jadi mempunyai kegunaan atau arti yang berbeda didalam kebudayaan yang berlainan. Busur dan anak panah mungkin merupakan suatu senjata untuk mempertahankan diri dan alat untuk membunuh binatang buruan bagi suku-suku primitif, sedangkan didalam suatu masyarakat yang maju busur dan anak panah itu akan dianggap mainan atau sebagai sebuah perlengkapan olahraga. Sehubungan dengan ini, penting nya pertanyaan tentang nilai-nilai atau norma-norma maupun pertanyaan tentang tingkat teknologi, mempunyai relevansi. Walaupun begitu, suatu pembahasan mengenai nilai-nilai sosial itu kira nya lebih sesuai dengan topic kebudayaan dan materiyang akan diberikan dibawah ini.

2.      Kebudayaan Non Materi
      Aspek non materi dari kebudayaan itu merangkum semua buah karya manusia yang ia gunakan untuk menjelaskan serta dijadikan pedoman bagi tindakan-tindakan nya, dan itu tak hanya ditemukan didalam pikiran nya orang-orang. Dikenal dua buah kategori dari kebudayaan non material itu. Kategori pertama meliputi apa yang secara luas dapat didefinisikan sebagai nirma-norma individu, sedangkan kategori kedua melipiti kelompok norma-norma yang membentuk pranata sosial atau sosial institution.

a.       Norma-norma
            Norma-norma itu dapat didefinisikan sebagai standard-stand-dard tingkah laku yang terdapat didalam semua masyarakat, seperti misal nya bagaimana saran berpakaian pada peristiwa-peristiwa tertentu atau bagaimana menegur atau menyapa orang-orang dari kelas-kelas yang berlainan. Sebagai suatubagian dari kebudayaan dan materi, norma-norma tersebut menyatakan konsepsi yang teridealisir dari tingkah laku. Sudah barang tentu memang benar bahwa tingkah laku erat hubungan nya dengan apa yang menurut pendapat seseorang itu benar atau baik; walaupun begitu, tingkah laku yang sebenar nya dipandang sebagai suatu aspek dari organisasi sosial, sebagaimana yang dikemukakan di muka, dan bukan aspek dari kebudayaan.
Istilah norma itu diinterprestasikan mencakup pengetahuan, keyakinan dan nilai-nilai. Konsep-konsep ini telah banyak didefinisikan dan dibahas sebagai unsure-unsur dari sistem-sistem sosial. Walaupun begitu, tidak adasalah nyabila dikemukakan bahwa semua pengertian yang ada pada pikiran manusia tentang diri nya sendiri, dunia nya, serta hubungan dengan sesama nya membentuk kumpulan ide-ide (norma-norma) mereka. Di dalam pengertian kebudayaan ide-ide merangkum folklore (kisah-kisah rakyat), doktrin-doktrin keagamaan, teori-teori dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, filsafat pendidikan dan pemerintahan, aturan-aturan olahraga, perasaan-perasaan abstrak, sistem-sistem moralita serta etika maupun penjelasan-penjelasan lain dari dunia dimana seseorang itu hidup.
Sedikit banyak norma-norma itu berlainan antara individu atau kelompok yang satu dengan individu atau kelompok yang lain karena adanya sebab-sebab seperti yang sudah dikemukakan di dalam uraian di muka sistem-sistem nilai dan keyakinan yang berkembang didalam masyarakat-masyarakat tertentu, ditinjau dari sudut kebudayaan, memisahkan masyarakat-masyarakat itu dari masyarakat-masyarakat yang lain dan dari itu berkembang corak nilai-nilai dan keyakinan yang berbeda-beda. Salah  satu kenyataan yang memberikan penjelasan kepada ahli sosiologi mengenai timbul nya tingkah laku yang berbeda.


b.      Institusi-institusi
Institusi-institusi sosial pada hakikat nya adalah kumpulan-kumplan dari norma-norma (struktur-struktur sosial) yang telah diciptakan untuk dapat melaksanakan suatu fungsi dari masyarakat. Institusi-institusi ini berbeda dari norma-norma diatas didalam pengertian bahwa institusi-institusi tersebut meliputi kumpulan-kumpulan norma dan bukan nya norma-norma yang berdiri sendiri-sendiri.
Orang memandang “keluarga” (family) sebagai suatu kelompok sosial tetapi ia tidak boleh mengacaukan konsep ini dengan keluarga sebagai suatu institusi sosial. Sebagai institusi sosial keluarga bukanlah sebuah kelompok melainkan serangkaian pola-pola tingkah laku yang berhubungan dengan fungsi-fungsi untuk melahirkan (menurunkan) keturunan dan berfungsi sebagai perlengkapan masyarakat didalam membentuk warga yang mencerminkan identitas setempat. Keluarga sebagai sebuah kelompok sosial menjalankan banyak fungsi-fungsi institusi yang berhubuungan dengan institusi-institusi sosial diluar Keluarga, seperti misal nya agama atau politik.
Norma-norma dan institusi-institusi dapat dikaitkan dengan cara demiikian. Keyakinan terhadap monogamy atau terhadap keesaan tuhan adalah ide-ide yang dapat di klasifikasikan sebagai norma-norma tunggal. Institusi keluarga dan agama terbentuk dari suatu paduan norma-norma yang mencangkup norma kawin dengan hanya seorang istri didalam institusi yang pertama dan norma menyembah satu tuhan didalam institusi yang kedua.

C.    Komponen-komponen Struktur dan Kebudayaan.
Penyelidik yang berminat untuk mengadakan suatu analisa yang cermat dan terperinci terhadap suatu kebudayaan tertentu, pada umumnya berpatokan kepada apa yang disebut komopnen-komponen struktur kebudayaan. Ini adalah suatu cara untuk meninjau isi atau susunan dari kebudayaan, yang mempunyai keuntungan-keungtungan analisa tertentu. Yang terutama ialah bahwa cara ini memberikan kemungkinan kepada orang itu untuk membuat daftar catalog dari tingkah laaku yang konkrit yang mungkin menjadi ciri dari satu individu atau kelompok tertentu. Klasifikasi bisa di lakukan karena kebudayaan bukanlah hanya emata-mata merupakan suatu kumpulan dari ide-ide (norma-norma), melainkan suatu sistem yang teratur dari tingkah. Komponen-komponen strukrur dari kebudayaan sebagai suatu konsep sangat membantu orang untuk menghayati organisasi (sistem) tingkah laku.

1.      Elemen-elemen Kebudayaan (Culture Traits)
Unit terkecil dari kebudayaan.yang dapat didentifisir ( kenali) disebut istilah elemen kebudayaan. Dalam hal ini hendaknya berhati-hti untuk tidak mengacaukan antara bahan-bahan mentah dan kebudayaan. Misalnya, sebatang pensil dapat dikatan sebagai sebuah benda kebudayaan karena pensil merupakan suatu produk materi dari tingkah laku yang di pelajari. Memperdabatkan apakah termasuk elemen kebudayaan ataukah tidak, misalnya kayu, grafit pada pensil itu, cat warna dari pensil itu, dan karet penghapus diujung pensil, berarti masih belum memahami masalahnya. Jika unit yang menjadi masalah itu belum menunjukan suatu kombinasi dari materi, tindakan dan ide-ide yang berkaitan dengan suatu kebutuhan atau situasi tertentu, maka unit itu memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai sebuah  elemen kebudayaan. Dengan dengan kata lain, cirri-ciri semacam itu harus berhubungan dengan suatu lokalitas kebudayaan yang lebih besar, sebagaimaa yang akan disaksikan di dalam uraian mengenai kompleks-komplokes kebudayaan dibawah ini.
Suatu elemen kebudayaan materi boleh jadi lebih mudah dikenali dari pada suatu elemen kebudayaan non-materi. Contoh-contoh untuk yang pertama antara lain ilah benda-benda seperti bola sepak, pensil, dasi, lipstik atau ujung anak panah. Elemen-elemen kebudayaan non-materi antara lain ialah tindakan-tindakan serta praktek-praktek seperti aturan yang mengatakan bahwa gadis-gadis yang tinggal di asrama harus sudah masuk kekamarnya pada jam 1.00 malam, menyebut orang laki-laki yang patut dihormati dengan “pak” keharusan untuk memperoleh nilai rata-rata C supaya seorang siswa dapat lulus dan undang-undang yang mengatakan bahwa supaya seseorang mempunyai hak pilih harus sudah berumur 21tahun. Setiap kebudayaan benar-benar memiliki beribu-ribu ciri kebudayaan, yang dapat dianggap sebagai unit dasar dari kebudayaan itu.

2.      Kompleks kebudayaan
Di dalam uraian diatas setelah di kemukakan bahwa elemen-elemen kebudayaan jarang sekali, atau hamper-hampir tidak pernah ada secara terpisah dari elemen-elemen lain didalam suatu kebudayaan tertentu. Istilah yang dipakai untuk menyatakan suatu kombinasi dari elemen-elemen yang saling berkaitan yang membentuk persyaratan-persyaratan kebudayaan untuk situasi-situasi atau aktivitas-aktivas tertentu ialah kompleks kebudayaan. Permainan sepak bol menunjukan suatu kompleks kebudayaan, karena meliputi bola sepak ditambah sutau aturan permainan (sebagai elemen kebudayaan) dan lain-lainnya.
Kadang-kadang ada kekacauan mengenai perbedaan-perbedaan antara kata-kata elemen dan kompleks. Sebenarnya elemen-elemen kebudayaan yang sama didalam peristiwa yang satu dapat disebut sebagai trait tetapi didalam peristiwa lain disebut sebagai kompleks, kontradiksi yang nyata ini akan dapat didekatkan satu sama lain melalui konteks dari pokok pembicaraan. Contohnya sebuah mobil dapat dikatan sebagai elemen (trait) kebudayaan bila dilihat kepada suatu kompleks pengangkutan. Sebaliknya, sebuah dan dapat dikatakan sebagai ciri kebudayaan bila pembicaraan yang dilakukan itu berintikan pada mobil itu sebagai suatu kompleks kebudayaan. Suatu aturan yang baik untuk diikuti ialah bahwa trait-trait merupakan unit-unit atau bagian-bagian terkecil yang mempunyai nilai penting secara langsung guna memahami kompleks kebudayaan tertentu.


D.    Tipe-tipe Partisipasi Kebudayaan
1.      Partisipasi menyeluruh (universals)
Adalah trait- trait kebudayaan yang diperlukan bagi seluruh anggota  dari suatu masyarakat. Kebudayaan itu diperlukan untuk eksistensi mereka didalam suatu masyarakat bangsa tertentu, dan ini mencangkup undang- undang serta adat kebiasaan yang berhubungan dengan kehidupan keluarga, persekolahan, aktivitas bisnis, dan sebagainya.

2.      Partisipasi pilihan (alternatives)
Situasi- situasi dimana individu  bias memilih beberapa kemungkinan tindakan yang sama, atau hamper sama baiknya dimata masyarakat yang lebih besar.

3.      Partisipasi kekhususan (speciality)
Aspek- aspek unik dari kebudayaan yang tidak diikuti oleh orang ramai secara umum, semua kelompok masyarakat yang besar meliputi kelompok- kelompok yang dapat dikatakan khusus didalam pengertian propesi, pekerjaan atau keagamaan.

E.     Pengaruh Kebudayaan Sekolah Terhadap Masyarakat
Sekolah yang berorentasi penuh kepada kehidupan masyarakat disebut Community school atau sekolah masyarakat.Sekolah ini berorentasi pada masalah-masalah kehidupan dalam masyarakat seperti masalah usaha manusia melestarikan alam, memanfaatkan sumber-suber alam dan manusia, masalah kesehatan, kewarganegaraan, penggunaan waktu senggang, komunikasi, transport, dan sebagainya.Dalam kurikulum ini anak dididik agar turut serta dalam kegiatan  masyarakat. Pelajaran mengutamakan kerja kelompok. Dengan sendirinya kurikulum itu fleksibel, berbeda dari sekolah ke sekolah,dari tahun ke tahun dan tidak dapat ditentukan secara uniform.murid-murid mempelajari lingkungan sosialnya untuk mengidentifikasi masalah-maslah yang dapat dijadikan pokok bagi suatu unit pelajaran.Khususnya yang  memberi kesempatan kepada murid-murid untuk meningkatkan mutu kehidupan dalam masyarakat sekitarnya.
Dalam melaksanakan program sekolah, masyarakat turut sertakan. Tokoh-tokoh dari setiap aspek kehidupan masyarakat seperti dari dunia perusahaan, pemerintah, agama, politik, dan sebagainya.diminta bekerja sama dengan sekolah dalam peroyek perbaikan masyarakat. Untuk itu diperlukan masyarakat yang turut bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan pendidikan anak.Sekolah dan masyarakat dalam hal ini bekerja sama dalam suatu aksi social.
Banyak kesulitan yang dihadapi bila kita ingin menjalan kan sekolah seperti itu.Meminta waktu dan tenaga tokoh-tokoh masyarakat dalam suatu proyekpelajaran sekolah akan bayank menemui rintangan. Demikian pula bila anak ingin mengunjungi berbagai kantor, Pabrik, Perusahaandan sebagainya.Kurikulum sekolah sepenuh nya di dasarkanatas maslah-maslah masyarakat yang mendapat kencamanyang pedasdari golongan yang menginginkan kurikulum  akademis berdasarkan disiplin ilmu.Setelah peluncuran sputnik kurikulum yang subject-contered berupa mata pelajaranatau bidang setudi kembali mendapat peranan utama.
Sekarang mungkin jarang terdapat orang yang berpegang sepenuhnya pada prinsip-prinsip community school.Akan tetapi walaupun kurikulum bersifat subject-centered, perlu juga berorientasi pada anak dan masyarakat.Tak mungkin kurikulum efektif tanpa memperhitungkan anak dan tak ada kurikulum yang tidak mempersiapkan anak untuk masyarakat.Setiap sekolah harus relevan dengan kebutuhan masyarakat karena sekolah didiirikan oleh masyarakat untuk mempersiapkan anak untuk masyarakat.Maka kerena itu guru perlu mempelajari dan mengenal masyarakat sekitarnya.
(11.Nasution.Sosiologi Pendidikan.2004.Ed 2.Cet 3.hal 149



DAFTAR PUSTAKA
Nasution.2004.Sosiologi Pendidikan.Bumi Aksara: Bandung
elo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi, Setangkai Bunga Sosiologi edisi pertama, (Jakarta:   Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1954).
Abu Ahmadi.Sosiologi Pendidikan.1991.hal.62
anandakusmiati.blogspot.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar